Kamis, 18 Mei 2017

Trip to Japan, 26 Maret - 01 April 2017 (Day 6) part 1

30 Maret 2017, pagi itu kami masih di hotel Gifu Miyako Hotel. Kami bangun, sarapan, dan bersiap untuk berangkat menuju Kyoto. Perlu pembaca ketahui, pada saat menulis cerita ini saya kembali melihat catatan harian saya selama di Jepang yang memang saya buat untuk menjaga memori/kenangan yang belum tentu saya bisa alami lagi untuk kedua kalinya. Catatan harian tersebut akan membantu saya jika ada teman atau keluarga yang ingin bertanya terkait trip saya ke Jepang. Karena itu harus saya catat selain untuk dokumen kenangan pribadi, juga untuk dokumen cerita/informasi yang bisa saya bagikan ke orang-orang dengan tingkat keakuratan mendekati 100% dibandingkan jika tidak saya catat dan hanya mengandalkan ingatan. Memori tersebut akan ada yang terlupakan dan feelnya juga tidak sama dibandingkan dengan jika terdapat catatan harian yang ditulis pada saat saya masih di tempat kejadian. Singkat cerita, rupanya saya tidak mendapati catatan harian saya pada hari ke-6 tsb. Rupanya saya lupa menuangkannya dalam catatan harian sehingga pada postingan hari ke-6 ini akan saya coba gunakan ingatan saya. Semoga tidak mengurangi informasi secara signifikan.

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya tidak menulis di catatan harian untuk hari ke-6 ini sehingga saya tidak ingat jam berapa morning call-nya. Breakfast pada hari itu seperti biasa saya tidak makan banyak. Yang saya ingat saya hanya makan sedikit buah-buahan dan mungkin sedikit roti/kue karena yang saya dengar perjalanan menuju Kyoto akan memakan waktu kurang lebih 3 - 3,5 jam. Setelah sarapan, kami checkout dan menuju bus untuk berangkat. Kemungkinan kami berangkat pukul 8 pagi waktu setempat. Ketika bus baru berjalan beberapa meter, Pak Zul mendapat telfon dari hotel. Katanya ada remote tv di salah satu kamar rombongan yang tidak ada di tempatnya. Sehingga Pak Zul kembali ke hotel untuk menyelesaikan hal tersebut. Sekitar 15 menit berlalu akhirnya Pak Zul kembali ke dalam bus dan kami melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan, yang saya ingat kami berhenti sekali untuk toilet stop. Perjalanan berlangsung lancar. Di tengah perjalanan, Pak Zul sebagai tour guide menginformasikan bahwa terjadi perubahan cuaca di daerah Kyoto dan Osaka. Menurut laporan cuaca, akan terjadi hujan mulai pukul 1 siang hingga 3 pagi keesokan harinya. Sedangkan kemarin Pak Zul menginformasikan bahwa besok cuaca dilaporkan cerah. Ya, begitulah cuaca di Jepang. Bisa berubah-ubah, karena itu orang-orang Jepang sangat peduli dengan laporan cuaca. Perlu pembaca ketahui, alasan saya pergi ke Jepang misinya adalah ke Osaka. Sehingga kabar hujan tersebut tidak sama sekali menurunkan semangat saya yang sudah selangkah lagi mendekati Osaka. Dalam batin saya "Dalam beberapa jam lagi saya akan sampai ke Osaka. Hujan tidak berarti apapun karena saya juga sering kehujanan di Indonesia. Kecuali hujan di Jepang berbeda, bukan air yang turun." Ya, hari itu jadwal kami adalah ke Kyoto & Osaka.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, perjalanan berlangsung lancar, namun tidak ketika kami mendekati/masuk ke daerah Kyoto. Diujung jalan yang akan memasuki Kyoto, kami terjebak macet. Untuk gambaran pembaca, bayangkan saja ketika kita dari Jakarta menuju Bogor, kita diujung jalan tol yang memasuki wilayah Bogor. Nah, selama di tolnya lancar-lancar saja, namun terjadi kemacetan akibat penyempitan yang akan memasuki daerah Bogor. Begitu pula yang terjadi ketika kami memasuki Kyoto.

Macet tersebut bukan disebabkan oleh membludaknya kendaraan seperti yang terjadi di kota-kota besar. Melainkan karena ketika kita memasuki Kyoto, kita hanya memiliki 1 lajur, ditambah ada beberapa lampu merah yang harus dilewati dalam jarak berdekatan. Sehingga arus lalu lintas menjadi terhambat. Seingat saya, saya merasa pada saat itu kami tiba di Kyoto jauh lebih cepat dari waktu estimasi. Namun karena terhambatnya arus lalu lintas tadi, pada akhirnya kami tiba di Kyomizu Temple (Kyomizudera) sesuai waktu estimasi. Dan benar saja, hujan turun. Hujan rintik-rintik mulai turun sejak kami terjebak macet memasuki Kyoto. Kami tidak langsung menuju Kyomizu Temple, melainkan makan siang terlebih dahulu.

Sesampainya di lokasi makan siang, sekitar pukul 11.30 siang, kami makan siang terlebih dahulu. Tempat makannya di lantai 2, tidak besar, tapi sangat dipadati orang. Saya tahunya ketika kami pulang, sudah banyak orang mengantri untuk menggantikan tempat kami. Jadi ternyata kami adalah kloter pertama, kami dibatasi hanya sampai pukul 12.30 JST karena antrian dari rombongan pengunjung lain.

Menu makannya ada nasi putih, udon, dan shabu-shabu. Di dalam shabu-shabu (rebus-rebusan) terdapat cumi, udang yang besar, daging ayam, bakso ikan, tahu putih, jamur, dsb. Minumnya seperti biasa, ocha (teh hijau). Ada hal menarik bagi saya ketika kami sedang makan. Ibu-ibu rombongan kami ingin minta tambahan tahu untuk shabu-shabu. Nenek yang melayani kami pun pergi dan mengambilkan tahu untuk kami. Biasanya di restoran-restoran ketika kita minta tambahan makanan, yang kita bayangkan adalah kita diberikan tambahan yang sedikit (namanya juga tambahan). Yang saya bayangkan si nenek akan mengambil kan 2-5 potong/kotak tahu, tapi ternyata si nenek menuangkan sepiring penuh tahu ke dalam pot shabu-shabu kami. Melihat hal itu saya pun takjub dan keceplosan berkomentar ketika sang nenek menuangkan tahu-tahu tersebut di depan saya "uooooh sughoi ne~ (huaaah luar biasa sekali / banyak sekali)". Dan nenek tersebut ternyata membalas komentar saya, saya lupa kalimat persisnya tapi kurang lebih berkata "banyak ya? haha maka dari itu makan lah yang banyak ya". Yang saya ingat nenek tersebut menggunakan kata "ippai tabeyo bla bla dst". Setelah itu nenek tersebut berkata (dalam bahasa Inggris) ke rombongan kami bahwa beliau kira saya orang Jepang karena saya berbicara seperti orang Jepang, tidak seperti orang Indonesia atau turis. Dalam batin saya "tidak percuma saya nonton acara-acara Jepang, dari sana saya dapat belajar dan mengerti sedikit bahasa Jepang". Setelah kami selesai makan, kami diberikan dessert atau makanan penutup es krim macha. Saya berpikir wah afdol sekali ya makan es krim macha langsung di negaranya hehe saya suka es krimnya tidak terlalu manis, sehingga rasa machanya lebih dominan.

Setelah kami selesai makan, kami kembali menuju bus untuk menuju ke Kyomizu Temple. Perjalanan yang kami tempuh hanya sebentar karena lokasinya dekat. Sesampainya di parkiran bus, kami turun dan cuaca terasa dingin. Menurut saya musim semi Jepang tidak terasa dingin, sejuk saja. Tapi kalau hujan, dinginnya akan terasa. Mulut saya kembali mengeluarkan asap di sana. Kami diingatkan untuk tetap mengikuti tour guide dan tour leader hingga masuk ke kuilnya. Karena dari parkiran bus hingga ke pintu masuk klenteng, jalan yang dilalui sekitar 500 meter, penuh dengan orang, dan di sepanjang jalan tersebut terdapat berbagai toko baik itu toko oleh-oleh, jajanan, dsb di kanan dan kiri jalan. Sehingga kami diingatkan untuk tidak mampir-mampir dulu karena akan membuat waktu tidak efektif dan efisien. Tour guide dan tour leader akan mengantarkan kami sampai masuk klenteng, membayar tiketnya, setelah itu baru waktu bebas. Jika ingin berbelanja di toko-toko tersebut juga dapat dilakukan setelah kita keluar dari klenteng. Karena itu tour guide dan tour leader kami menekankan "kita jalan dulu sampai ke pintu masuk, karena saya harus membayar tiketnya. Setelah itu bapak dan ibu boleh / dipersilakan berbelanja ketika sudah keluar/selesai". Ya, karena jika belanjanya di awal, mungkin ada yang tidak mau berbelanja dan ingin langsung melihat Kyomizu Temple, akhirnya malah harus menunggu yang berbelanja. Yang namanya berbelanja pun kita tidak tahu kapan selesainya, maka dari itu yang penting masuk dulu, setelah itu yang mau berbelanja dipersilakan supaya sama-sama enak.




Foto di atas adalah pintu masuk Kyomizu Temple, dapat dilihat di sebelah kiri foto ada pohon sakura kecil yang belum begitu banyak daunnya. Selain itu orang-orang di sana juga menggunakan payung karena memang pada saat itu sedang hujan. Saya juga sebetulnya menggunakan payung, tapi karena sedang berfoto, saya tidak bisa memegang payung dan viewnya pun pasti terganggu dengan payung. Foto tiket masuk tsb saya ambil ketika saya sudah sampai di hotel Kansai di malam hari. Kondisinya sudah cukup basah dan lecek. Tapi tetap saya foto untuk kenang-kenangan.


Foto tersebut saya ambil ketika sudah keluar dari bangunan utama klenteng. Menurut saya, yang menarik bukan pada isi bangunan klenteng, melainkan di luarnya karena lebih banyak yang bisa dilihat untuk objek-objek berfoto. Foto di atas adalah foto tempat orang menaruh/menggantung tulisan-tulisan, saya tidak tahu tulisan apa yang mereka gantung di sana. Jika pembaca mengamati ekspresi muka saya, ya, ekspresi muka saya tidak tersenyum lepas. Kondisinya saat itu banyak orang lalu-lalang, jalannya kecil, saya harus berada di ujung sisi satunya untuk mendapatkan objek foto tulisan yang digantung-gantung. Sehingga saya harus menunggu hingga tidak ada orang lagi yang lewat, dan memanfaatkan waktu yang sempit tersebut untuk berfoto. Jadi ekspresi saya tersebut adalah ekspresi harap-harap cemas khawatir ada orang yang jalan lewat di belakang saya.


Lewat dari tulisan-tulisan tersebut, akan ada 2 jalan. Jalan terusan ke atas, dan jalan ke bawah. Jalan terusan yang ke atas akan ada toko-toko jimat dan beberapa objek foto. Sedangkan jalan ke bawah akan ada sumber air yang dipercaya memberikan 3 manfaat, dan jalan menuju pintu keluar.




Foto pertama adalah jalan menuju ke atas, terdapat batu love stone. Sedangkan foto kedua jalan menuju toko-toko jimat. Sebelum naik ke atas, saya mencoba jalan ke arah toko-toko jimat sekadar ingin tahu saja karena saya lihat yang masuk ke sana cukup ramai. Saya mampir ke tokonya, melihat-lihat bentuk dan tulisan-tulisan yang tertera pada jimat tersebut. Jimat tersebut ada beberapa macam, ada yang untuk melancarkan jodoh, melanggengkan pernikahan, kesehatan, kaya, dsb. Tour guide saya, Pak Zul, menyarankan saya untuk membeli jimat yang untuk melancarkan jodoh. Sekadar meluruskan, Pak Zul menyarankan seperti itu dalam konteks bercanda karena kami sama-sama muslim, tentu saja kami tidak percaya dengan hal-hal seperti jimat. Namun yang di benak saya pada saat itu, kalau bentuk jimatnya bagus, mungkin saya ingin beli untuk kenang-kenangan. Jimat-jimat yang ada di situ terbuat dari kayu, berisikan tulisan / kata-kata, mungkin ada yang bahasa Inggris juga seperti kata "love", "health", "wealth", dsb. Bentuknya lebih seperti pajangan yang digantung, jadi buat saya, lebih seperti pajangan handmade berisikan tulisan Jepang sebagai sebuah karya seni dibanding jimat untuk keperluan mistis. Satu hal yang membuat saya mengurungkan niat membelinya adalah karena faktor harga. Harganya sekitar 1000 yen, bahkan ada yang lebih mahal. Jika dikurskan dengan kurs 120 rupiah, jadi 120 ribu rupiah. Jika saya bandingkan dengan pajangan dari kayu juga yang saya beli di desa Shirakawa harganya tidak lebih dari 300 yen. jadi saya pikir toh saya sudah punya pajangan dari kayu, sama-sama dari Jepang, buat apa saya beli barang sejenis dengan harga yang lebih mahal?


Foto di atas adalah Love Stone, di situ tertulis yang pada intinya jika kita berhasil jalan dari satu batu ke batu satunya dengan mata tertutup , maka kehidupan percintaan kita akan berjalan dengan baik. Namun jika kita tidak berhasil, pertanda kehidupan percintaan kita tidak akan berjalan dengan baik. Saya ingin mencobanya tapi sayang saya tidak menemukan batu kedua yang dimaksud. Jadi yasudah, cuma bisa foto saja.


Setelah tidak ada lagi yang bisa saya lihat, saya pun menuju ke bawah menuju pintu keluar. Foto ini adalah tangga ke bawah yang sudah saya singgung di atas.


Foto di atas adalah sumber air yang saya sebutkan di atas. Ada 3 pancuran air seperti yang terlihat di situ. Saya lupa 3 pancuran itu melambangkan apa saja, tapi kalau saya tidak salah ingat ketiganya melambangkan keuangan, kesehatan, percintaan. Jadi dengan meminum dari 3 pancuran itu diharapkan 3 aspek tersebut lancar/baik. Untuk dapat meminumnya kita diharuskan mengantri seperti yang terlihat di situ. Saya tidak meminumnya karena tidak tertarik melihat antriannya, toh di bus saya punya air minum sendiri jika haus.


Saat berjalan menuju pintu keluar, saya melewati sebuah taman (?) yang terdapat kolamnya. Karena saya suka pemandangan yang hijau maka saya foto untuk kenang-kenangan. Betapa indahnya alam ini jika kita jaga dan lestarikan.

Setelah keluar dari area klenteng, untuk kembali ke bus,  saya kembali melewati toko-toko yang di awal kami diingatkan untuk tidak mampir dulu, mampir dan belanjanya setelah selesai dari Kyomizu Temple. Saya diamanahi oleh ibu saya untuk membawa oleh-oleh pajangan dari Jepang berupa piringan. Piringan tersebut haruslah merepresentasikan negara yang kita kunjungi. Ibu saya ingin saya membawa pajangan piringan dari Jepang yang bertuliskan "Japan". Pencarian pertama saya ketika saya baru tiba Tokyo hari pertama. Ketika itu di Asakusa memang ada pajangan piringan bertuliskan "Japan" tapi model/gambarnya terlalu biasa, kurang bagus menurut saya, harganya pun kalau saya tidak salah ingat sekitar 1750 yen. Saya pikir "ah nanti saja, saya liat-liat dulu siapa tahu ada model lain dan harganya lebih murah. Toh baru hari pertama. Saya masih ada waktu 5 hari untuk menunaikan amanah ibu. Masa' iya 5 hari tidak ketemu sama sekali, minimal di bandara pasti ada". Ternyata benar saja, sejak hari itu saya tidak menemukan piringan seperti itu di tempat-tempat yang dikunjungi. Karena dari itu saya bertekad harus dapat menemukannya di toko-toko di kawasan Kyomizu Temple ini.
Singkat cerita saya mulai melihat-lihat dari satu toko ke toko yang lain. Fokus saya adalah toko oleh-oleh / cenderamata. Akhirnya saya menemukan sebuah toko oleh-oleh dan saya lihat satu per satu barang di toko tersebut. Ada gantungan kunci, T-shirt, uang tiruan, dan.... saya menemukan pajangan piringan. Saya cek satu-satu model dan harganya. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke pajangan piringan berwarna hitam dengan gambar/motif gunung Fuji bertuliskan "Made in Japan". Pilihan saya berdasarkan antara lain warnanya hitam, saya pikir ini cukup unik karena pajangan piringan yang saya temukan rata-rata berwarna putih. Dibanding warna putih, warna putih kurang memberikan impact. Dari gambar/motif saya lebih memilih gunung Fuji karena gunung Fuji merupakan salah satu ikon Jepang, gambar/motif lainnya adalah peta geografis Jepang. Saya pikir orang akan lebih tertarik dengan ikon dibanding peta geografis. Selanjutnya tulisan, untuk yang gambar peta Jepang tulisannya memang "Japan", sedangkan yang gambar gunung Fuji tulisannya "Made in Japan", saya pikir tulisan "Japan" bisa dibuat di mana saja, bisa saja tulisannya "Japan" padahal made in Indonesia atau made in China. Lain dengan apapun tulisannya, tapi jika "Made in Japan" sudah pasti barang tersebut asli dari Jepang. Itulah pertimbangan-pertimbangan saya dalam memilih piringan tersebut. Dari segi harga, harganya lebih murah tidak sampai 1000 yen karena memang ukurannya lebih kecil dibanding piringan yang saya temui di Asakusa. Lucunya adalah di toko tersebut saya menemukan pajangan piringan yang sama persis dengan yang saya temukan di Asakusa, namun harganya kalau saya tidak salah ingat sekitar 1200 yen. Perbedaannya signifikan antara 1200 yen dengan 1750 yen. Jadi kalau ingin membeli barang, sebaiknya jangan di Asakusa karena di sana harga lebih mahal. hehe. Soal perbedaan harga tersebut pun diakui oleh orang-orang di rombongan saya, mereka juga menemukan barang yang sama tapi di Asakusa harganya jauh lebih mahal.

Setelah pajangan piringan sudah saya dapatkan, saya pun bergegas kembali ke bus. Saya ingin segera kembali ke bus karena udara di luar cukup dingin karena cuaca hujan. Di bus saya bisa menghangatkan diri. Saya anggota pertama yang kembali ke bus karena memang masih ada sisa waktu sekitar 1 jam. Saya yakin anggota yang lain pasti masih sibuk belanja sana sini. Setelah mencapai batas waktu yang ditentukan, kami harus kembali melanjutkan perjalanan menuju stasiun kereta untuk menaiki shinkansen (kereta cepat / bullet train) menuju Osaka. Saya lupa tepatnya jam berapa kami bertolak berangkat dari Kyomizu Temple, perkiraan saya sekitar jam 3 sore karena saya sempat melaksanakan sholat ashar di bus.

Cerita selanjutnya akan saya lanjutkan di part 2 karena ternyata saya sudah menulis cukup banyak. Jika dilanjutkan sampai habis pasti akan panjang sekali dan saat ini sudah pukul 10 malam lebih WIB. Jika saya lanjutkan mungkin baru selesai lewat tengah malam. To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Playlist