Jumat, 19 Mei 2017

Trip to Japan, 26 Maret - 01 April 2017 (Day 6) part 2

Setibanya di stasiun kereta atau JR Station, kami langsung bergegas memasuki bangunan stasiun. Bus kami meninggalkan kami untuk melanjutkan perjalanan menuju Osaka. Barang-barang berat seperti koper kami tinggalkan di bus. Sedangkan bawaan ringan seperti ransel dan barang-barang berharga tetap kami bawa. Seperti yang sudah diceritakan di awal tur, rundown acara yang diberikan harusnya kami menaiki bus dari Kyoto sampai Osaka. Namun tour leader kami Pak Singgih Hartanto memberikan opsi tambahan jika rombongan tur ingin mencoba menaiki shinkansen, pihak tur akan mengakomodasi aspirasi tersebut. Singkat cerita kami semua setuju untuk menggunakan shinkansen namun dengan tambahan biaya sebesar 3500 yen (tiket shinkansen + tiket kereta biasa untuk terusan). Sebetulnya Panorama tour juga memiliki opsi menggunakan shinkansen, namun bukan di paket tur yang saya dan rombongan pilih. Paket tour kami adalah Japan Wonderful Tour.

Kami turun dari bus dan berjalan cepat menuju stasiun karena jadwal kereta tidak dapat diganggu gugat. Kami harus menaiki kereta sesuai dengan jadwal yang terdekat, jika kelewatan, maka tentu kami harus menunggu jadwal kereta berikutnya. Saya tidak sempat mengambil foto bangunan JR Station atau pun situasi di dalam bangunan karena kami semua bergerak dengan cepat, tidak ada waktu untuk berhenti sesaat untuk foto-foto. Selain itu saya juga tidak menemukan lokasi foto yang pas yang menunjukkan bahwa saya berada di sebuah stasiun kereta.

Di dalam JR (Japan Railway) Station, saya melihat stasiun kereta yang tidak seperti stasiun kereta di Indonesia. Stasiun kereta di Jepang sudah seperti di bandara. Terdapat toko-toko perbelanjaan, outlet makanan, terang, ber-AC, bersih, dan suasana ticketing yang modern. Kita seperti sedang bertransaksi di bank ketimbang sedang membeli tiket kereta. Oh ya, tentu saja bangunannya dibawah tanah. Setelah berjalan cepat akhirnya kami disuruh menunggu di sebuah tempat, sedangkan pak Zul membelikan tiket untuk kami.



2 foto di atas adalah tiket shinkansen yang sama. Tidak ada bedanya, hanya bolak-balik saja. Saya tidak tahu yang mana bagian depan, mana yang bagian belakang. Setelah kami mendapatkan tiket masing-masing, kami diminta bergegas menuju ruang tunggu kereta di atas. Kami pun harus menaiki eskalator. Perlu pembaca ketahui ada perbedaan adab dalam menggunakan eskalator di Osaka dan daerah lain. Di Osaka, jika kita tidak ada keperluaan mendesak, sebaiknya kita menggunakan sisi kanan eskalator karena sisi kiri akan digunakan untuk orang yang sedang terburu-buru. Sedangkan di daerah lain seperti Tokyo, kita sebaiknya menggunakan sisi kiri eskalator karena sisi kanan akan digunakan untuk orang yang sedang terburu-buru dan membutuhkan jalur "bebas hambatan".

Untuk pengecekan tiket, tidak dilakukan di dalam kereta seperti kereta-kereta di Indonesia. Kita harus memasukan tiket kereta ke dalam sebuah mesin, portal penghalang terbuka, kemudian sambil berjalan, di ujung mesin kita ambil lagi tiketnya. Perlu diingat bahwa meskipun kita sudah memasukkan tiket , tiket yang sudah selesai diperiksa otomatis oleh mesin harus kita ambil lagi dan kita simpan selama di kereta karena pada saat turun dari kereta, tiket tersebut akan digunakan kembali. Tanpa tiket tersebut kita tidak bisa keluar dari stasiun karena kita harus melewati portal lagi untuk keluar.


Foto di atas adalah foto yang diambil di dalam gerbong kereta cepat shinkansen. Foto diambil oleh tour leader kami yaitu pak Singgih. Suasana di dalam kereta kondusif/tenang. Ekspektasi saya ketika menaiki shinkansen adalah kami akan dibawa dengan kecepatan tinggi, ternyata shinkansen tidak secepat yang saya bayangkan karena saya masih bisa melihat pemandangan di luar dengan jelas. Terdapat perbedaan yang saya rasakan antara suasana di dalam kereta Indonesia dengan suasana kereta shinkansen Jepang. Jika kita bayangkan kereta di Indonesia adalah tempat bersantai/istirahat, yang saya lihat dan rasakan kereta shinkansen benar-benar hanya seperti alat transportasi (hanya untuk berpindah tempat). Tidak ada yang tertawa, bercanda, dsbnya. Mayoritas yang ada di dalam gerbong adalah karyawan yang mungkin baru pulang kantor atau pelajar yang pulang dari sekolah bersama wali (orang tua?). Bahkan orang di sebelah saya masih bekerja menggunakan laptopnya dengan wajah serius. Mungkin hanya saya sendiri dan 2 orang wanita di kanan foto (anggota tur kami) yang ngobrol dan cengar-cengir di gerbong karena memang kami cuma turis (tidak ada beban & pikiran). Perjalanan kami memakan waktu 20 menit menuju terminal Osaka. Dari terminal Osaka kami akan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta seperti KRL untuk transportasi di dalam kota.



Foto tersebut diambil ketika sudah sampai di terminal Osaka. Saya tidak sempat foto di awal karena memang kami harus segera masuk kereta. Setelah turun, kereta tersebut masih di stasiun menunggu jadwal keberangkatan berikutnya. Jeda tersebut kami manfaatkan untuk berfoto-foto.

kami turun menuju ke dalam bangunan stasiun untuk membeli tiket terusan menggunakan KRL. Seperti yang sudah saya tulis di atas, tiket shinkansen harus tetap disimpan karena akan digunakan saat kita turun memasuki bangunan dalam stasiun. Tiket akan dimasukkan kembali ke dalam mesin, namun bedanya kali ini tiket tidak akan keluar lagi. Jadi bagi yang ingin membuat memori kenang-kenangan, sebaiknya tiket segera difoto sebelum keluar, karena tiket tidak kita bawa pulang.


setelah berada di dalam bangunan stasiun, Pak Zul kembali membelikan kami tiket. Tiketnya berbeda dengan tiket shinkansen seperti yang tergambar pada foto di atas. Setelah masing-masing kami memegang tiket, kami kembali bergegas menuju ke atas menuju ruang tunggu kereta. Prosedurnya sama, tiket dimasukkan ke dalam mesin, nanti kita ambil lagi. Setelah sampai di stasiun tujuan, tiket kita gunakan lagi untuk keluar dan tidak kita ambil lagi (tidak dibawa pulang).

Bedanya KRL dengan shinkansen adalah, dari segi modern shinkansen lebih modern, KRL keretanya kurang lebih sama dengan di Indonesia. Duduknya hanya di samping-samping, sedangkan di tengah gerbong untuk orang yang berdiri. Kami berhenti di beberapa stasiun, stasiun yang kami tuju adalah stasiun shinsaibashi. Saat kereta bergerak keluar stasiun, saya akhirnya melihat pemandangan kota Osaka. Dalam batin saya "akhirnya saya tiba juga di sini. Hari ini jarak saya dengan Osaka tidak sejauh biasanya. Saya akan melihat Osaka dari dekat dengan mata kepala saya sendiri". Kami melewati 3-4 stasiun sebelum akhirnya kami tiba di stasiun shinsaibashi. Setelah kami turun dari kereta dan keluar dari stasiun, kami tiba-tiba keluar dari sebuah mall perbelanjaan. Mungkin stasiun dan mall jadi satu. Ya, kami sudah tiba di shinsaibashi, destinasi berikutnya setelah Kyomizu Temple.

Kami dibriefing sebentar. Jam menunjukkan sekitar pukul 16.30 JST, jadwal kami adalah makan malam kemudian waktu bebas sampai jam 19.00 JST. Jam 19.00 JST kami sudah harus berkumpul di shinsaibashi di depan toko Zara yang berdekatan dengan toko Uniqlo. Ada anggota rombongan yang berpisah dengan kami karena mereka memiliki rekan di Osaka, mereka akan jalan-jalan sendiri dan nanti akan ke hotel diantar rekan mereka, tidak bareng kami. Saya pun mengikuti tour guide dan tour leader menuju tempat makan. Sesampainya di tempat makan, saya minta ijin untuk memisahkan diri dari rombongan dan tidak ikut makan malam karena saya ada agenda sendiri. Sehari sebelumnya memang saya sudah minta ijin kepada tour leader dan tour guide untuk memisahkan diri dan tidak ikut makan malam karena saya ingin memaksimalkan waktu saya di Osaka karena ada tempat yang ingin saya kunjungi. Saat itu saya ingat betul jam menunjukkan pukul 16.50 JST. Dalam hitung-hitungan saya, kalau saya ikut makan, dari pengalaman yang sudah-sudah selama tur di Jepang minimal akan menghabiskan waktu 30 menit di restoran. Saya hanya punya waktu 30-60 menit saja untuk waktu bebas kemudian kembali ke tempat kumpul.

Saya pun mengatur GPS di hp untuk membantu mengarahkan saya menuju tempat yang saya tuju. GPS menunjukkan saya hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mencapai ke sana. Saya pun memantapkan hati "inilah tujuan saya datang ke Osaka". Saya mulai berjalan mengikuti petunjuk di GPS. Perlu pembaca ketahui, di daerah tersebut lokasinya adalah jalan dengan blok-blok. Setiap blok memiliki jalan kecil, ada pula jalan yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki. 

Saya mengikuti panduan GPS di hp saya. GPS mengatakan belok ke kanan, saya ke kanan. GPS mengatakan ke kiri, saya pun ke kiri. Setelah beberapa waktu berjalan, saya mulai dibuat bingung oleh GPS. Pada saat GPS menyuruh saya belok ke kiri, saya pun ke kiri. Namun setelah saya ke kiri, GPS tersebut menyuruh saya untuk memutar balik melalui jalan yang tadi saya lewati. begitu pula sebaliknya. Singkat cerita, saya diajak bolak-balik, muter-muter jalan oleh GPS. Jam menunjukkan sekitar pukul 17.40 JST. Cuaca saat itu hujan dan suhu terasa dingin. Nafas saya mulai sedikit tersengal sehingga ketika saya berjalan, asap keluar dari mulut saya karena dinginnya temperatur. Saat itu saya berpikir, "baiklah, saya akan ikuti GPS ini sejauh yang saya bisa. Kalau dirasa semakin jauh dari tujuan alias ngawur, maka saya harus berhenti menggunakan GPS". Akhirnya saya terus mengikuti apa kata GPS tanpa protes karena asumsi saya GPS lebih tahu jalan dari saya. Singkat cerita jam sudah menunjukkan waktu sekitar pukul 17.50 JST dan saya masih belum sampai tempat tujuan. Saya cek GPS saya, jarak saya ke tempat tujuan adalah 15 menit. Ya, semakin jauh dari yang awalnya hanya 10 menit. Saya berpikir, "saya sudah mengikuti apa kata GPS selama 1 jam lebih dari 16.50 JST sampai saat ini tidak ada hasil. Jika saya masih mengikuti GPS, saya akan mendapatkan hasil yang sama". Kebetulan karena hujan semakin berat, layar hp saya pun sering basah terkena hujan dan sulit melihat peta GPS karena sebentar-sebentar harus saya lap.

Akhirnya saya tutup hp saya, saya ganti strategi dengan bertanya ke orang-orang. Tentu saja target utamanya adalah polisi, jika tidak ada polisi di sekitar situ, saya akan tanya orang biasa. Kebetulan di dekat situ ada pos polisi. Saya memang sengaja berhenti di daerah itu untuk membuat alternatif. Jika GPS tidak bisa diharapkan, saya stop di sini, tanya ke pos polisi. Ternyata takdir mengarah ke alternatif kedua. Saya datangi pos polisi dan bertanya ke polisi yang sedang berjaga di depan. Saya pun mendapat petunjuk arah jalan. Pak Polisi tersebut memang tidak langsung menunjukkan di mana ke tempat yang saya tuju (mungkin karena masih terlalu jauh), tapi intinya saya sudah dapat, bahwa tempat yang saya tuju ada di arah yang ditunjuk oleh polisi tersebut. Saya pun segera berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh polisi tersebut. Jika saya mulai bingung atau merasa tidak pasti, saya akan bertanya lagi di sana.

Ketika sudah saya jalani petunjuk arah dari polisi tadi, saya tiba di sebuah pinggir jalan besar. Saya mulai bingung ke mana saya harus pergi. Ikuti jalan yang mana? apa harus menyeberangi jalan besar? Saya pun segera mencari polisi lagi dan saya menemukannya. Saya merasa sangat terbantu karena ternyata di ujung-ujung jalan dan ujung blok selalu ada polisi yang menjaga/berpatroli. Kali ini saya bertanya dan polisi tersebut menyuruh saya menyeberangi jalan besar. Setelah menyeberangi jalan besar, saya harus ke kanan melewati 4 blok jalan. Baiklah, saya masih belum tahu lokasi tempat yang saya tuju, yang pasti saya harus melewati jalan besar, dan ke kanan sejauh 4 blok.

Setelah menyeberangi jalan besar, saya pun ke kanan berjalan melewati jalan sejauh 4 blok. Setelah itu saya mencari polisi lagi untuk bertanya. Saya menemukan polisi yang sedang berjaga disamping sepedanya. Kali ini pak polisi mengeluarkan peta dan mencoba menunjukkan arah jalan kepada saya. Saya menyadari peta yang dikeluarkan polisi tersebut dilapisi oleh plastik (seperti plastik yang membungkus STNK) sehingga peta tidak terkena hujan. Jadi ada 2 hal yang saya dapatkan, polisi di Jepang memiliki peta, kemudian peta tersebut dilapisi dengan plastik agar tidak terkena hujan. Kebetulan pada saat itu sedang hujan, jika tidak hujan mungkin saja saya tidak mengetahui fungsinya (mungkin hanya supaya lebih rapi dan awet). Saya tidak begitu hafal penjelasan polisi tersebut, yang saya tahu intinya adalah saya berjalan ke sebuah arah, dan lewati jembatan. Oh ya, pak polisi tersebut juga menggunakan bahasa Inggris sebisanya. Saya tahu harus melewati jembatan karena dia bilang "bridge". Setelah itu saya kembali melanjutkan perjalanan.



Rupanya inilah yang dimaksud polisi tadi bahwa saya harus melewati jembatan. Jembatan terkenal di Dotonburi. Ketika saya berjalan dan melihat sungai di tengah kota dan jembatan-jembatan tersebut, harapan/optimisme saya kembali muncul karena saya tahu lokasi yang saya tuju tidak jauh dari lokasi ini walau saya masih belum tahu persisnya di mana.



Saya pun menyempatkan berfoto di ikon kota Osaka yaitu monumen (?) Glico. Gambar orang yang sedang berlari mengangkat 1 kaki dan kedua tangannya. Biasanya orang-orang berfoto di depan gambar tersebut sambil menirukan pose Glico tersebut. Namun sayangnya saya tidak bisa melakukannya karena saat itu saya sendiri (tidak ada orang di sekitar saya) dan jika saya mengangkat kedua tangan saya, siapa yang akan memotret saya? Pada saat itu saya merasa seperti orang bodoh karena mengabaikan logika saya. Mana ada orang yang sedang tersesat jalan, buru-buru, masih belum tahu berapa jauh lagi lokasi yang dituju, waktu semakin sempit, tapi masih sempat berfoto-foto.

Foto kedua adalah foto peta di dekat jembatan Dotonburi tersebut. Saya mencoba membaca peta dan mencari lokasi yang saya tuju tapi lokasi yang saya tuju tidak ada di peta tersebut. Akhirnya saya foto saja kalau-kalau saya gagal ke lokasi yang saya tuju, paling tidak, saya ada petunjuk arah pulang atau patokan saya berada di mana jika akhirnya saya jadi anak hilang.

Saya kembali bertanya ke polisi di daerah sekitar situ. Saya diberikan petunjuk arah jalan lagi dan saya kembali mengikuti petunjuk yang sudah diberikan. Saya kembali memasuki kawasan pertokoan seperti yang ada di Shinsaibashi. Ada Bic Camera, McD, toko pakaian, toko emas, toko jajanan, dsbnya. Jalan pertokoan tersebut hanya bisa dilalui pejalan kaki sama seperti di Shinsaibashi. Setelah saya melewati pertokoan, saya kembali kehilangan arah. Kali ini saya tidak menemukan polisi karena mungkin berada di gang kecil. Akhirnya saya bertanya ke pelayan toko makanan ringan (seperti cafe) yang sedang membersihkan meja-meja di luar toko. Saya berani bertanya karena pelayannya masih muda, asumsi saya kalau masih muda mestinya lebih ramah dibandingkan yang tua. Saya bertanya ke pelayan tersebut, pelayan tersebut tahu lokasi yang saya maksud. Dia langsung menunjukkan jalan, saya tinggal lurus saja kemudian belok ke kiri. Setelah mengucapkan terima kasih, saya kembali berjalan.

Ketika saya berjalan, saya tiba di sebuah gang kecil di mana di kiri jalan hanyalah tembok kosong, dan di kanan jalan terdapat seperti sebuah mall tapi tidak terlalu mewah (kalau di sini mungkin seperti ITC). Ketika saya berjalan melewati daerah tersebut saya pun tersadar ketika menoleh ke kanan "loh, ini dia lokasi yang saya cari!". Ya, lokasi yang saya cari persis ada di depan bangunan tersebut. Yang terlihat memang hanya pintu masuknya saja karena bangunannya ada di bawah tanah. Saya pun berfoto-foto sebentar untuk mengabadikan momen tersebut. Tempat yang saya cari selama ini, akhirnya kesampaian juga. Pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul 18.10 JST. Saya bergegas menuju lokasi kedua yang saya tuju karena letaknya berdekatan. Saya bertanya sekali lagi ke orang yang sedang lewat, saya ditunjuki jalan lurus saja, tempatnya di sebelah kiri. Saya pun jalan sebentar dan sudah sampai di lokasi kedua. Tempat tersebut menjual aneka merchandise. Saya melihat-lihat sebentar dan menentukan apa saja yang ingin saya beli sekaligus membelikan titipan teman di Indonesia. Jam sudah menunjukkan pukul 18.20 JST, saatnya memikirkan jalan pulang. Saya kembali membuka GPS saya dan mengatur untuk mengarahkan saya ke Zara di Shinsaibashi, tempat berkumpul yang sudah ditentukan. Bedanya, hasil peta yang ditunjukkan oleh GPS, saya screenshot saja. Jalan demi jalan saya screenshot. Saya tidak mau lagi mengikuti petunjuk GPS Belok kanan atau kiri. Saya cukup lihat dari screenshot yang sudah saya ambil.

Sekitar 18.25 JST saya mulai bergerak menuju arah pulang. Saya tidak tahu apakah saya akan sampai tepat waktu atau tidak mengingat saya menghabiskan waktu 1 jam lebih untuk sampai ke situ dari 16.50 JST sampai 18.10 JST, entah berapa lama saya akan sampai ke lokasi tempat berkumpul. Saya menelusuri jalan, melewati pertokoan, saya kembali melewati Bic Camera di ujung pertokoan yang sudah saya lewati ketika menuju lokasi pertama. Dari Bic Camera saya menyeberangi jalan besar menggunakan zebra cross. Sambil menunggu lampu hijau bagi para penyeberang jalan, ada sepasang pengantin yang menggunakan gaun lengkap & tuxedo lengkap berfoto dengan latar belakang jalan besar. Pemandangan tersebut cukup unik buat saya dan menjadi tontonan saya sambil menunggu. Setelah lampu hijau bagi penyeberang jalan, saya kembali melanjutkan jalan menyeberangi jalan besar tersebut dan sampailah saya di ujung sebuah pertokoan. Dari screenshot GPS yang saya ambil tadi, saya hanya perlu jalan lurus saja sepanjang pertokoan tersebut (mungkin 1 km). Saya jalan lurus diantara keramaian orang-orang yang juga berjalan di pertokoan tersebut. Terkadang saya sambil lari kecil jika ada space cukup longgar karena memang kondisinya ramai sekali, bahkan untuk menyalip orang yang di depan saja sulit. Akhirnya saya melihat logo Uniqlo di ujung jalan. Toko Zara ada disampingnya. Saya pun segera mempercepat jalan saya mencapai lokasi tersebut. Saya tiba di tempat berkumpul sekitar pukul 18.40 JST dan saya adalah orang pertama dari rombongan tur yang tiba di tempat berkumpul. Hanya 20 menit perjalanan saja dari lokasi kedua tadi menuju lokasi tempat berkumpul di Shinsaibashi.

Saya pun merasa lega dan merasa takjub bagaimana perjalanan pergi menghabiskan waktu sejam lebih, berhasil pulang dalam tempo 20 menit. Saya pun menyadari letak error perjalanan saya. Sejak awal GPS saya disetting untuk perjalanan menggunakan mobil. Saya lupa dan tidak sadar bahwa settingan tersebut harus diubah jika kita ingin menggunakannya dengan berjalan kaki. Maka dari itu selalu terjadi pengalihan jalan/arah karena memang jalan yang saya lalui banyak yang tidak bisa dilalui mobil, hanya bisa dilalui dengan jalan kaki atau sepeda. Jadi yang seharusnya 20 menit sampai dengan jalan hanya lurus-lurus saja, menjadi muter-muter karena GPS harus mencari jalan yang bisa dilewati oleh mobil. Bayangkan saja berapa banyak jalan yang saya lewati yang tidak bisa dilalui mobil. Mulai dari menyeberang jalan besar menggunakan zebra cross, jembatan Dotonbori, pertokoan, bahkan tempat yang saya ingin tuju pun tidak bisa dilalui oleh mobil. Yang terpikir oleh saya sebelumnya adalah GPS sama saja, hanya menunjukkan rute tidak peduli kita menaiki kendaraan atau jalan kaki. Saya baru sadar ketika kembali mengecek apa yang salah dari GPS saya. Ketika saya lihat, ternyata ada opsi settingan untuk jalan kaki. Mungkin kalau sebelumnya saya ubah settingannya untuk yang berjalan kaki, hasilnya jadi berbeda.

Akhirnya jam 19.00 JST kami sudah berkumpul semua dan menuju bus kami yang sudah menunggu di lokasi yang sudah ditentukan. Kami berjalan sekitar 10 menit. Sekitar 19.10 - 19.15 JST kami menaiki bus kami yang jalan dari Kyoto, menuju hotel di area Kansai. Di perjalanan menuju hotel, saya sudah tidak terlalu konsentrasi lagi melihat jalan karena masih terbayang-bayang misi saya kesampaian juga. Ditambah bagaimana hal yang diluar dugaan terjadi kepada saya, yaitu nyasar, dan ajaibnya saya bisa kembali paling pertama. Ada sedikit rasa penyesalan bagi saya seandainya saya tidak nyasar, saya bisa lebih berlama-lama di lokasi yang saya tuju dan mencicipi makanan pinggir jalan kota Osaka. Saya berharap bisa mencicipi takoyaki asli/langsung di Osaka, tapi itu tidak tercapai. Namun kekecewaan saya tersebut boleh dibilang "dibayar" oleh pengalaman luar biasa yang bisa saya ceritakan kepada orang-orang bahwa saya pernah nyasar di negeri orang dan saya bisa survive kembali tepat waktu. Ya, saya tidak saja hanya nyasar, tapi saya harus kembali tepat waktu. Jika saya tidak kembali tepat waktu, bisa jadi saya ditinggal dan harus ke hotel sendiri atau menimbulkan masalah bagi tour leader dan tour guide saya.

Pemandangan kota Osaka di malam hari cukup indah. Seingat saya kota Osaka di malam hari terlihat gedung-gedung besar dan cukup padat namun juga terlihat perairan di pinggir kota (entah laut darimana). Saya berpikir "Osaka akan sangat menarik untuk dijelajahi lebih jauh". Perjalanan menuju hotel tidak begitu lama, mungkin hanya 20-30 menit saja. Kami akan bermalam di Kansai Bellevue Garden.

Sesampainya di hotel, hal yang harus saya lakukan adalah mencari makan malam. Seperti biasa kami dikumpulkan di lobi hotel menunggu kunci hotel dibagikan oleh Pak Zul. Setelah mendapatkan kunci, saya langsung naik lift menuju kamar hotel. Saya taruh koper dan tas saya, melepas sepatu dan mengganti dengan sandal hotel. Saya turun lagi kebawah untuk keluar hotel. Di lobi hotel saya kembali bertemu dengan Pak Zul dan Pak Singgih yang sepertinya masih sibuk dengan urusan hotel dan pembagian oleh-oleh yang kami pesan. Pak Zul dan Pak Singgih menyapa saya dan bertanya mau ke mana. Saya jawab "mau keluar pak, cari makan di luar". Mereka melihat saya akan keluar dan menggunakan sandal hotel, ternyata kata mereka sendal hotel tidak boleh dibawa keluar. Akhirnya saya kembali naik ke atas dan menggantinya dengan sepatu karena saya memang tidak membawa sendal.

Saya pun turun lagi dan keluar hotel. Di depan hotel kami tidak jauh terdapat supermarket (saya lupa namanya). Saya pun menuju ke sana untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Saya berjalan melewati parkirannya yang cukup luas dan masuk ke dalamnya. Saya jelajahi satu per satu raknya, namun menurut saya tidak ada yang cocok untuk makan malam. Rata-rata yang ada adalah cemilan-cemilan kering seperti biskuit, ciki (?), snack-snack ringan, makanan-makanan yang dikeringkan, makanan yang dibekukan, mie instan, dsbnya. Ada pula tempat makan seperti foodcourt kecil tapi saya tidak berani makan di situ. Selain harga tentu lebih mahal (rata-rata makanan seporsi 1000 yen), saya juga tidak tahu apakah halal atau tidak karena saya lihat ada menu seperti bakso-baksoan / pangsit-pangsitan rebus, ada juga mungkin seperti nasi goreng tapi saya tidak tahu daging apa yang digunakan. Akhirnya saya keluar lagi.


Di dekat situ saya tahu ada Seven Eleven, karena itu saya berani keluar dari supermarket tanpa membawa apa-apa. Saya dengar salah satu tips bagi para backpackers adalah makan makanan dari konbini (convenient store alias minimarket) karena harganya murah. Jadi memang sebetulnya saya akan ke Seven Eleven jika tidak ada sesuatu yang worth it dibeli di supermarket. Kebetulan di Indonesia pun saya tidak asing dengan Seven Eleven. Sambil jalan memasuki toko saya sempatkan foto tokonya. Di dalam toko saya melihat-lihat isinya. Tidak beda jauh dengan Seven Eleven di Indonesia. Di rak-raknya tidak ada yang menarik untuk saya makan. Saya beralih ke bagian "makanan angetan". Nah, di situ banyak pilihan. Ada onigiri, sandwich, pasta, burger, nasi-nasian, dsb. Saya pun melihat-lihat harganya sekaligus melihat mana yang kira-kira halal dimakan. Singkat cerita, saya pilih onigiri dan ada beberapa jenis onigiri yang saya pilih. Selain onigiri saya juga membeli nasi kare karena sejak kecil, saya penasaran dengan nasi kare di Jepang karena sering muncul di anime-anime. Setelah bertransaksi dan makanan saya dihangkatkan menggunakan microwave, saya kembali ke hotel.


Sampai di kamar hotel, saya foto terlebih dahulu sebagai kenang-kenangan. Saya membeli 4 buah onigiri dan satu porsi nasi kare dengan total harga 910 yen. Harga onigiri berkisar 100-200 yen, sedangkan nasi kare sekitar 600 yen. Saya memilih onigiri topping telur ikan, onigiri isi telur ayam mentah, dan 2 onigiri biasa. Saya memang penasaran dengan rasa onigiri isi telur mentah, karena di Jepang telur mentah adalah makanan yang wajar dan sehat. Kemudian, menurut saya rasanya di Indonesia tidak mungkin menemukan orang menjual makanan dengan lauk telur mentah.

Saya pun memakannya satu per satu karena memang sudah lapar belum makan dari siang. Onigiri biasa dan onigiri topping telur ikan rasanya biasa-biasa saja dalam artian enak dan layak makan tapi bukan yang enak banget sehingga perlu direkomendasikan ke orang-orang kalau ke Jepang. Biasa saja tapi enak dan layak makan. Sedangkan rasa onigiri isi telur mentah cukup unik. Kuning telurnya tidak terasa amis atau mentah, namun tetap terasa mild (?). Jadi seperti memakan onigiri isi mentega/margarin yang sudah dipanaskan (cair), namun kalau mentega/margarin mungkin rasanya akan asin sedangkan onigiri isi telur mentah ini tidak ada rasanya.

Menu terakhir adalah nasi kare. Saya terkejut ternyata karenya menggunakan daging, bukan ayam. Dalam bayangan saya (mungkin karena tinggal di Indonesia) kare itu ya pakai ayam. Saya pun ragu apakah ini daging sapi atau bukan. Saya coba cicipi sedikit dagingnya, rasanya mirip daging sapi. Dalam batin saya, saya sudah terlanjur beli. Saya juga tidak tahu pasti apakah ini bukan daging sapi. Rasa kuah karinya terlalu menggoda untuk dibuang. Jadi saya putuskan makan saja. Beda dengan jika saya memang tahu persis itu bukan daging sapi. Saya berdoa saja seandainya itu memang bukan daging sapi, Tuhan mau memaafkan saya karena ketidaktahuan saya. Saya pun tidak tinggal diam, ketika saya sudah sampai di Indonesia saya langsung mencari tahu di internet daging apa yang biasa digunakan orang Jepang untuk membuat kari. Memang ada preferensi lain menggunakan daging selain sapi, tapi rata-rata ternyata memang menggunakan daging sapi. Kecurigaan saya pada harga juga dibantah di suatu sumber yang saya baca. Orang tersebut makan nasi kare daging sapi di sebuah restoran murah dengan hanya 500 yen per porsi, bahkan lebih murah dibanding harga yang saya beli di Seven Eleven. Jadi dari hasil pencarian saya, cukup meyakinkan bahwa besar kemungkinan yang saya makan adalah daging sapi.

Setelah menghabiskan makan malam, saya bergegas untuk mandi dan kemudian tidur. Dalam ingatan saya, biasanya sebelum tidur saya menyempatkan untuk menulis catatan harian di hari tersebut. Tapi mungkin pertimbangan saya saat itu adalah toh besok juga sudah akan pulang. Apalagi Petualangan di Osaka sangat berkesan bagi saya, jadi tidak mungkin saya lupakan dalam waktu singkat. Jadi mungkin pada saat itu saya memang tidak mencatatnya. Selesai.

Kamis, 18 Mei 2017

Trip to Japan, 26 Maret - 01 April 2017 (Day 6) part 1

30 Maret 2017, pagi itu kami masih di hotel Gifu Miyako Hotel. Kami bangun, sarapan, dan bersiap untuk berangkat menuju Kyoto. Perlu pembaca ketahui, pada saat menulis cerita ini saya kembali melihat catatan harian saya selama di Jepang yang memang saya buat untuk menjaga memori/kenangan yang belum tentu saya bisa alami lagi untuk kedua kalinya. Catatan harian tersebut akan membantu saya jika ada teman atau keluarga yang ingin bertanya terkait trip saya ke Jepang. Karena itu harus saya catat selain untuk dokumen kenangan pribadi, juga untuk dokumen cerita/informasi yang bisa saya bagikan ke orang-orang dengan tingkat keakuratan mendekati 100% dibandingkan jika tidak saya catat dan hanya mengandalkan ingatan. Memori tersebut akan ada yang terlupakan dan feelnya juga tidak sama dibandingkan dengan jika terdapat catatan harian yang ditulis pada saat saya masih di tempat kejadian. Singkat cerita, rupanya saya tidak mendapati catatan harian saya pada hari ke-6 tsb. Rupanya saya lupa menuangkannya dalam catatan harian sehingga pada postingan hari ke-6 ini akan saya coba gunakan ingatan saya. Semoga tidak mengurangi informasi secara signifikan.

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya tidak menulis di catatan harian untuk hari ke-6 ini sehingga saya tidak ingat jam berapa morning call-nya. Breakfast pada hari itu seperti biasa saya tidak makan banyak. Yang saya ingat saya hanya makan sedikit buah-buahan dan mungkin sedikit roti/kue karena yang saya dengar perjalanan menuju Kyoto akan memakan waktu kurang lebih 3 - 3,5 jam. Setelah sarapan, kami checkout dan menuju bus untuk berangkat. Kemungkinan kami berangkat pukul 8 pagi waktu setempat. Ketika bus baru berjalan beberapa meter, Pak Zul mendapat telfon dari hotel. Katanya ada remote tv di salah satu kamar rombongan yang tidak ada di tempatnya. Sehingga Pak Zul kembali ke hotel untuk menyelesaikan hal tersebut. Sekitar 15 menit berlalu akhirnya Pak Zul kembali ke dalam bus dan kami melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan, yang saya ingat kami berhenti sekali untuk toilet stop. Perjalanan berlangsung lancar. Di tengah perjalanan, Pak Zul sebagai tour guide menginformasikan bahwa terjadi perubahan cuaca di daerah Kyoto dan Osaka. Menurut laporan cuaca, akan terjadi hujan mulai pukul 1 siang hingga 3 pagi keesokan harinya. Sedangkan kemarin Pak Zul menginformasikan bahwa besok cuaca dilaporkan cerah. Ya, begitulah cuaca di Jepang. Bisa berubah-ubah, karena itu orang-orang Jepang sangat peduli dengan laporan cuaca. Perlu pembaca ketahui, alasan saya pergi ke Jepang misinya adalah ke Osaka. Sehingga kabar hujan tersebut tidak sama sekali menurunkan semangat saya yang sudah selangkah lagi mendekati Osaka. Dalam batin saya "Dalam beberapa jam lagi saya akan sampai ke Osaka. Hujan tidak berarti apapun karena saya juga sering kehujanan di Indonesia. Kecuali hujan di Jepang berbeda, bukan air yang turun." Ya, hari itu jadwal kami adalah ke Kyoto & Osaka.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, perjalanan berlangsung lancar, namun tidak ketika kami mendekati/masuk ke daerah Kyoto. Diujung jalan yang akan memasuki Kyoto, kami terjebak macet. Untuk gambaran pembaca, bayangkan saja ketika kita dari Jakarta menuju Bogor, kita diujung jalan tol yang memasuki wilayah Bogor. Nah, selama di tolnya lancar-lancar saja, namun terjadi kemacetan akibat penyempitan yang akan memasuki daerah Bogor. Begitu pula yang terjadi ketika kami memasuki Kyoto.

Macet tersebut bukan disebabkan oleh membludaknya kendaraan seperti yang terjadi di kota-kota besar. Melainkan karena ketika kita memasuki Kyoto, kita hanya memiliki 1 lajur, ditambah ada beberapa lampu merah yang harus dilewati dalam jarak berdekatan. Sehingga arus lalu lintas menjadi terhambat. Seingat saya, saya merasa pada saat itu kami tiba di Kyoto jauh lebih cepat dari waktu estimasi. Namun karena terhambatnya arus lalu lintas tadi, pada akhirnya kami tiba di Kyomizu Temple (Kyomizudera) sesuai waktu estimasi. Dan benar saja, hujan turun. Hujan rintik-rintik mulai turun sejak kami terjebak macet memasuki Kyoto. Kami tidak langsung menuju Kyomizu Temple, melainkan makan siang terlebih dahulu.

Sesampainya di lokasi makan siang, sekitar pukul 11.30 siang, kami makan siang terlebih dahulu. Tempat makannya di lantai 2, tidak besar, tapi sangat dipadati orang. Saya tahunya ketika kami pulang, sudah banyak orang mengantri untuk menggantikan tempat kami. Jadi ternyata kami adalah kloter pertama, kami dibatasi hanya sampai pukul 12.30 JST karena antrian dari rombongan pengunjung lain.

Menu makannya ada nasi putih, udon, dan shabu-shabu. Di dalam shabu-shabu (rebus-rebusan) terdapat cumi, udang yang besar, daging ayam, bakso ikan, tahu putih, jamur, dsb. Minumnya seperti biasa, ocha (teh hijau). Ada hal menarik bagi saya ketika kami sedang makan. Ibu-ibu rombongan kami ingin minta tambahan tahu untuk shabu-shabu. Nenek yang melayani kami pun pergi dan mengambilkan tahu untuk kami. Biasanya di restoran-restoran ketika kita minta tambahan makanan, yang kita bayangkan adalah kita diberikan tambahan yang sedikit (namanya juga tambahan). Yang saya bayangkan si nenek akan mengambil kan 2-5 potong/kotak tahu, tapi ternyata si nenek menuangkan sepiring penuh tahu ke dalam pot shabu-shabu kami. Melihat hal itu saya pun takjub dan keceplosan berkomentar ketika sang nenek menuangkan tahu-tahu tersebut di depan saya "uooooh sughoi ne~ (huaaah luar biasa sekali / banyak sekali)". Dan nenek tersebut ternyata membalas komentar saya, saya lupa kalimat persisnya tapi kurang lebih berkata "banyak ya? haha maka dari itu makan lah yang banyak ya". Yang saya ingat nenek tersebut menggunakan kata "ippai tabeyo bla bla dst". Setelah itu nenek tersebut berkata (dalam bahasa Inggris) ke rombongan kami bahwa beliau kira saya orang Jepang karena saya berbicara seperti orang Jepang, tidak seperti orang Indonesia atau turis. Dalam batin saya "tidak percuma saya nonton acara-acara Jepang, dari sana saya dapat belajar dan mengerti sedikit bahasa Jepang". Setelah kami selesai makan, kami diberikan dessert atau makanan penutup es krim macha. Saya berpikir wah afdol sekali ya makan es krim macha langsung di negaranya hehe saya suka es krimnya tidak terlalu manis, sehingga rasa machanya lebih dominan.

Setelah kami selesai makan, kami kembali menuju bus untuk menuju ke Kyomizu Temple. Perjalanan yang kami tempuh hanya sebentar karena lokasinya dekat. Sesampainya di parkiran bus, kami turun dan cuaca terasa dingin. Menurut saya musim semi Jepang tidak terasa dingin, sejuk saja. Tapi kalau hujan, dinginnya akan terasa. Mulut saya kembali mengeluarkan asap di sana. Kami diingatkan untuk tetap mengikuti tour guide dan tour leader hingga masuk ke kuilnya. Karena dari parkiran bus hingga ke pintu masuk klenteng, jalan yang dilalui sekitar 500 meter, penuh dengan orang, dan di sepanjang jalan tersebut terdapat berbagai toko baik itu toko oleh-oleh, jajanan, dsb di kanan dan kiri jalan. Sehingga kami diingatkan untuk tidak mampir-mampir dulu karena akan membuat waktu tidak efektif dan efisien. Tour guide dan tour leader akan mengantarkan kami sampai masuk klenteng, membayar tiketnya, setelah itu baru waktu bebas. Jika ingin berbelanja di toko-toko tersebut juga dapat dilakukan setelah kita keluar dari klenteng. Karena itu tour guide dan tour leader kami menekankan "kita jalan dulu sampai ke pintu masuk, karena saya harus membayar tiketnya. Setelah itu bapak dan ibu boleh / dipersilakan berbelanja ketika sudah keluar/selesai". Ya, karena jika belanjanya di awal, mungkin ada yang tidak mau berbelanja dan ingin langsung melihat Kyomizu Temple, akhirnya malah harus menunggu yang berbelanja. Yang namanya berbelanja pun kita tidak tahu kapan selesainya, maka dari itu yang penting masuk dulu, setelah itu yang mau berbelanja dipersilakan supaya sama-sama enak.




Foto di atas adalah pintu masuk Kyomizu Temple, dapat dilihat di sebelah kiri foto ada pohon sakura kecil yang belum begitu banyak daunnya. Selain itu orang-orang di sana juga menggunakan payung karena memang pada saat itu sedang hujan. Saya juga sebetulnya menggunakan payung, tapi karena sedang berfoto, saya tidak bisa memegang payung dan viewnya pun pasti terganggu dengan payung. Foto tiket masuk tsb saya ambil ketika saya sudah sampai di hotel Kansai di malam hari. Kondisinya sudah cukup basah dan lecek. Tapi tetap saya foto untuk kenang-kenangan.


Foto tersebut saya ambil ketika sudah keluar dari bangunan utama klenteng. Menurut saya, yang menarik bukan pada isi bangunan klenteng, melainkan di luarnya karena lebih banyak yang bisa dilihat untuk objek-objek berfoto. Foto di atas adalah foto tempat orang menaruh/menggantung tulisan-tulisan, saya tidak tahu tulisan apa yang mereka gantung di sana. Jika pembaca mengamati ekspresi muka saya, ya, ekspresi muka saya tidak tersenyum lepas. Kondisinya saat itu banyak orang lalu-lalang, jalannya kecil, saya harus berada di ujung sisi satunya untuk mendapatkan objek foto tulisan yang digantung-gantung. Sehingga saya harus menunggu hingga tidak ada orang lagi yang lewat, dan memanfaatkan waktu yang sempit tersebut untuk berfoto. Jadi ekspresi saya tersebut adalah ekspresi harap-harap cemas khawatir ada orang yang jalan lewat di belakang saya.


Lewat dari tulisan-tulisan tersebut, akan ada 2 jalan. Jalan terusan ke atas, dan jalan ke bawah. Jalan terusan yang ke atas akan ada toko-toko jimat dan beberapa objek foto. Sedangkan jalan ke bawah akan ada sumber air yang dipercaya memberikan 3 manfaat, dan jalan menuju pintu keluar.




Foto pertama adalah jalan menuju ke atas, terdapat batu love stone. Sedangkan foto kedua jalan menuju toko-toko jimat. Sebelum naik ke atas, saya mencoba jalan ke arah toko-toko jimat sekadar ingin tahu saja karena saya lihat yang masuk ke sana cukup ramai. Saya mampir ke tokonya, melihat-lihat bentuk dan tulisan-tulisan yang tertera pada jimat tersebut. Jimat tersebut ada beberapa macam, ada yang untuk melancarkan jodoh, melanggengkan pernikahan, kesehatan, kaya, dsb. Tour guide saya, Pak Zul, menyarankan saya untuk membeli jimat yang untuk melancarkan jodoh. Sekadar meluruskan, Pak Zul menyarankan seperti itu dalam konteks bercanda karena kami sama-sama muslim, tentu saja kami tidak percaya dengan hal-hal seperti jimat. Namun yang di benak saya pada saat itu, kalau bentuk jimatnya bagus, mungkin saya ingin beli untuk kenang-kenangan. Jimat-jimat yang ada di situ terbuat dari kayu, berisikan tulisan / kata-kata, mungkin ada yang bahasa Inggris juga seperti kata "love", "health", "wealth", dsb. Bentuknya lebih seperti pajangan yang digantung, jadi buat saya, lebih seperti pajangan handmade berisikan tulisan Jepang sebagai sebuah karya seni dibanding jimat untuk keperluan mistis. Satu hal yang membuat saya mengurungkan niat membelinya adalah karena faktor harga. Harganya sekitar 1000 yen, bahkan ada yang lebih mahal. Jika dikurskan dengan kurs 120 rupiah, jadi 120 ribu rupiah. Jika saya bandingkan dengan pajangan dari kayu juga yang saya beli di desa Shirakawa harganya tidak lebih dari 300 yen. jadi saya pikir toh saya sudah punya pajangan dari kayu, sama-sama dari Jepang, buat apa saya beli barang sejenis dengan harga yang lebih mahal?


Foto di atas adalah Love Stone, di situ tertulis yang pada intinya jika kita berhasil jalan dari satu batu ke batu satunya dengan mata tertutup , maka kehidupan percintaan kita akan berjalan dengan baik. Namun jika kita tidak berhasil, pertanda kehidupan percintaan kita tidak akan berjalan dengan baik. Saya ingin mencobanya tapi sayang saya tidak menemukan batu kedua yang dimaksud. Jadi yasudah, cuma bisa foto saja.


Setelah tidak ada lagi yang bisa saya lihat, saya pun menuju ke bawah menuju pintu keluar. Foto ini adalah tangga ke bawah yang sudah saya singgung di atas.


Foto di atas adalah sumber air yang saya sebutkan di atas. Ada 3 pancuran air seperti yang terlihat di situ. Saya lupa 3 pancuran itu melambangkan apa saja, tapi kalau saya tidak salah ingat ketiganya melambangkan keuangan, kesehatan, percintaan. Jadi dengan meminum dari 3 pancuran itu diharapkan 3 aspek tersebut lancar/baik. Untuk dapat meminumnya kita diharuskan mengantri seperti yang terlihat di situ. Saya tidak meminumnya karena tidak tertarik melihat antriannya, toh di bus saya punya air minum sendiri jika haus.


Saat berjalan menuju pintu keluar, saya melewati sebuah taman (?) yang terdapat kolamnya. Karena saya suka pemandangan yang hijau maka saya foto untuk kenang-kenangan. Betapa indahnya alam ini jika kita jaga dan lestarikan.

Setelah keluar dari area klenteng, untuk kembali ke bus,  saya kembali melewati toko-toko yang di awal kami diingatkan untuk tidak mampir dulu, mampir dan belanjanya setelah selesai dari Kyomizu Temple. Saya diamanahi oleh ibu saya untuk membawa oleh-oleh pajangan dari Jepang berupa piringan. Piringan tersebut haruslah merepresentasikan negara yang kita kunjungi. Ibu saya ingin saya membawa pajangan piringan dari Jepang yang bertuliskan "Japan". Pencarian pertama saya ketika saya baru tiba Tokyo hari pertama. Ketika itu di Asakusa memang ada pajangan piringan bertuliskan "Japan" tapi model/gambarnya terlalu biasa, kurang bagus menurut saya, harganya pun kalau saya tidak salah ingat sekitar 1750 yen. Saya pikir "ah nanti saja, saya liat-liat dulu siapa tahu ada model lain dan harganya lebih murah. Toh baru hari pertama. Saya masih ada waktu 5 hari untuk menunaikan amanah ibu. Masa' iya 5 hari tidak ketemu sama sekali, minimal di bandara pasti ada". Ternyata benar saja, sejak hari itu saya tidak menemukan piringan seperti itu di tempat-tempat yang dikunjungi. Karena dari itu saya bertekad harus dapat menemukannya di toko-toko di kawasan Kyomizu Temple ini.
Singkat cerita saya mulai melihat-lihat dari satu toko ke toko yang lain. Fokus saya adalah toko oleh-oleh / cenderamata. Akhirnya saya menemukan sebuah toko oleh-oleh dan saya lihat satu per satu barang di toko tersebut. Ada gantungan kunci, T-shirt, uang tiruan, dan.... saya menemukan pajangan piringan. Saya cek satu-satu model dan harganya. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke pajangan piringan berwarna hitam dengan gambar/motif gunung Fuji bertuliskan "Made in Japan". Pilihan saya berdasarkan antara lain warnanya hitam, saya pikir ini cukup unik karena pajangan piringan yang saya temukan rata-rata berwarna putih. Dibanding warna putih, warna putih kurang memberikan impact. Dari gambar/motif saya lebih memilih gunung Fuji karena gunung Fuji merupakan salah satu ikon Jepang, gambar/motif lainnya adalah peta geografis Jepang. Saya pikir orang akan lebih tertarik dengan ikon dibanding peta geografis. Selanjutnya tulisan, untuk yang gambar peta Jepang tulisannya memang "Japan", sedangkan yang gambar gunung Fuji tulisannya "Made in Japan", saya pikir tulisan "Japan" bisa dibuat di mana saja, bisa saja tulisannya "Japan" padahal made in Indonesia atau made in China. Lain dengan apapun tulisannya, tapi jika "Made in Japan" sudah pasti barang tersebut asli dari Jepang. Itulah pertimbangan-pertimbangan saya dalam memilih piringan tersebut. Dari segi harga, harganya lebih murah tidak sampai 1000 yen karena memang ukurannya lebih kecil dibanding piringan yang saya temui di Asakusa. Lucunya adalah di toko tersebut saya menemukan pajangan piringan yang sama persis dengan yang saya temukan di Asakusa, namun harganya kalau saya tidak salah ingat sekitar 1200 yen. Perbedaannya signifikan antara 1200 yen dengan 1750 yen. Jadi kalau ingin membeli barang, sebaiknya jangan di Asakusa karena di sana harga lebih mahal. hehe. Soal perbedaan harga tersebut pun diakui oleh orang-orang di rombongan saya, mereka juga menemukan barang yang sama tapi di Asakusa harganya jauh lebih mahal.

Setelah pajangan piringan sudah saya dapatkan, saya pun bergegas kembali ke bus. Saya ingin segera kembali ke bus karena udara di luar cukup dingin karena cuaca hujan. Di bus saya bisa menghangatkan diri. Saya anggota pertama yang kembali ke bus karena memang masih ada sisa waktu sekitar 1 jam. Saya yakin anggota yang lain pasti masih sibuk belanja sana sini. Setelah mencapai batas waktu yang ditentukan, kami harus kembali melanjutkan perjalanan menuju stasiun kereta untuk menaiki shinkansen (kereta cepat / bullet train) menuju Osaka. Saya lupa tepatnya jam berapa kami bertolak berangkat dari Kyomizu Temple, perkiraan saya sekitar jam 3 sore karena saya sempat melaksanakan sholat ashar di bus.

Cerita selanjutnya akan saya lanjutkan di part 2 karena ternyata saya sudah menulis cukup banyak. Jika dilanjutkan sampai habis pasti akan panjang sekali dan saat ini sudah pukul 10 malam lebih WIB. Jika saya lanjutkan mungkin baru selesai lewat tengah malam. To be continued...

Minggu, 02 April 2017

Trip to Japan, 26 Maret - 01 April 2017 (Day 7)

01 April 2017 tiba saatnya kami pulang kembali ke Indonesia. Rasa lelah seminggu penuh mengikuti kegiatan yang cukup padat membuat saya tidak sedih-sedih amat pulang ke Indonesia. Walaupun tidak dipungkiri, pengalaman di Jepang selama 7 hari masih belum cukup untuk mengeksplore kearifan dan nilai-nilai yang ada di Jepang.

Morning call pagi ini adalah pukul 06.30 JST , morning call dilakukan oleh suara mesin. Kami sarapan mulai pukul 07.30 JST. Berbeda dari menu sarapan prasmanan dengan hotel-hotel sebelumnya, menu sarapan di hotel Kansai Bellevue Garden tidak begitu variatif, dan relatif banyak makanan yang mengandung pork. Sehingga dengan opsi menu yang tidak begitu banyak, saya mengambil sepotong roti tawar, 1 pcs roti (entah apa namanya), scrambled egg, 2 pcs tofu kotak, dan jus apel. Yang penting ada karbohidrat dan protein. hehe. Biasanya di hotel-hotel sebelumnya saya prefer sarapan buah, minumnya teh hijau (ocha). Namun karena menu sarapan saya pagi itu cukup hambar, masa' minumnya hambar juga, jadilah jus apel yang saya pilih untuk rasa kesegaran di pagi hari.

Jam 08.15 JST kami semua check-out dari hotel, minibus (mobil travel) sudah menunggu di depan hotel. Kami mengangkut koper-koper kami ke dalam mobil. Sekitar pukul 08.30 JST kami berangkat menuju bandar udara internasional Kansai. Kami tiba di bandara sekitar pukul 9 pagi JST. Setibanya di bandara kami menunggu waktu check-in yang dibuka pada pukul 09.30 JST untuk maskapai Garuda Indonesia. Kami sudah mengantri/mengular menunggu waktu check-in dan seiring kami menunggu, rombongan tour Indonesia dari jasa travel/tour lain pun mulai berdatangan pula. Untunglah kami sudah mengantri duluan sehingga rombongan kami yang pertama check-in.

Saat check-in tidak ada sesuatu, biasa saja. Saya menyerahkan passport, menaruh bagasi yang berjumlah 1 koper, oleh-oleh saya yang di kardus kecil sempat ingin dimasukkan ke bagasi, namun saya bertanya apa boleh dibawa saja ke kabin karena isinya hanya makanan ringan (cokelat & keju), kardusnya juga kecil seukuran kotak pizza ukuran sedang. Mbak-mbaknya pun memperbolehkan. Saya meminta untuk duduk di aisle seat, duduk di pinggir jalan/gang. Bukan yang di dekat jendela ataupun di tengah-tengah. Selepas check-in kami diminta langsung mengantri menuju bagian imigrasi karena antriannya panjang. Sepanjang apa sih?

Saya memasuki daerah antrian dan mulai mengantri dan... apa-apaan ini??? antriannya sangat mengular bahkan kita dibuat mondar-mandir  sampai 10 kali seperti berjalan mengikuti lorong labirin yang berkelok-kelok. Ya, wisatawan yang sama-sama menikmati bunga sakura di "kloter satu" dari seluruh dunia juga ikut mengantri bersama kami untuk pulang ke negeri asalnya. Akhirnya tibalah kami di bagian pemeriksaan barang. Saya masih memiliki sebotol teh hijau yang tidak boleh dibawa masuk (cairan lebih dari 100ml tidak diperbolehkan), saya minum sampai sekuat saya kemudian saya buang ke tempat sampah. Handphone, dompet, jam tangan saya masukkan ke jaket. Kemudian, jaket, tas ransel, kardus oleh-oleh saya letakkan di tray untuk diperiksa di mesin X-ray. Setelah melewati pemeriksaan saya turun menggunakan escalator untuk ke bagian imigrasi. Antrian di imigrasi tidak panjang seperti mengantri memasuki pemeriksaan barang. Saya menyerahkan passport dan tiket saya, kemudian dicap oleh petugasnya. Selesai sudah birokrasi antri-mengantri untuk memasuki ruang tunggu. hehe.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 JST. Sebelum memasuki ruang tunggu, lepas dari bagian imigrasi kita langsung dihadapkan pada toko-toko perbelanjaan. Jadi bagi yang ingin berbelanja di bandara, lewati dulu bagian imigrasi, belanjanya di sana saja. Ada yang menjual makanan, snack, oleh-oleh, buku, majalah, dsb. Saya ke toilet sebentar karena sejak urusan antri-mengantri tadi saya belum ke toilet. Setelah itu saya melihat-lihat sebentar dan membeli buku seharga 1480 yen. Saya tidak bisa berlama-lama melihat-lihat karena jam sudah menunjukkan pukul 11.00 JST, sedangkan pada tiket tertulis boarding pukul 11.20 JST.

Untuk menuju ruang tunggu, kita diharuskan menaiki kereta jarak pendek untuk menuju ruang tunggu masing-masing. Ruang tunggu saya di gate 26. Jadi pastikan kita sudah mengantri untuk ke gate 26 (atau gate yang dituju) sejak mengantri ke pemeriksaan barang. Saya beruntung ketika saya sampai, kereta baru datang, saya langsung naik dan sebentar saja sudah terisi. Kereta pun berangkat. Jaraknya tidak jauh, paling cuma 2-3 menit sudah sampai. Saya menunggu di ruang tunggu sampai dipanggil untuk boarding. Kami boarding pukul 11.30 JST. Saya duduk di kursi 23C, termasuk bagian depan pesawat setelah kelas bisnis. Orang di samping saya orang Jepang. Perjalanan ditempuh 7 jam lebih, sejauh 5630 km kalau saya tidak salah ingat. Kami tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 17.45 WIB.


Selama perjalanan kami diberikan beberapa tahap makanan. Sekitar jam 1 siang atau 30 menit pertama kita disuguhi kacang-kacangan dan minum, saya memilih minum jus apel. Saya langsung menyantap habis karena memang saya belum makan siang sama sekali, sejak sarapan saya yang terbatas pada pagi harinya. hehe. Saya menyantap kacang tersebut sambil menikmati film Fantastic Beast yang memang belum sempat saya tonton. Dibandingkan film Harry Potter, saya merasa level ceritanya agak jauh dibawah. Penggunaan sihirnya tidak sekeren dan sebanyak Harry Potter, lebih berfokus pada hewan-hewan ghaib tersebut. Alhasil setelah 3/4 film saya tidak tahan untuk tertidur.

Kemudian saya dibangunkan untuk makan siang, ada pilihan makanan Indonesia atau makanan Jepang. Karena pada saat berangkat saya pilih makanan Jepang, kali ini saya berniat mencicipi yang western. Namun karena opsinya Indonesia atau Jepang, akhirnya saya pilih Jepang lagi. Orang Indonesia kok milih makanan Indonesia, "sudah tiap hari" dalam pikiran saya, toh makanan Jepang lebih clean dengan lauk ikan salmon yang kaya protein, tamago (telur dadar), dan sayuran-sayuran. Saya langsung menyantap makanan tersebut karena kacang yang diberikan tadi belum cukup untuk porsi makan siang (walaupun saya akui kacang-kacangnya enak, kalau tidak enak ya tidak mungkin saya habisi langsung). hehe. Minuman yang saya pilih adalah jus apel (lagi). Jangan salah paham dengan saya, bukan berarti saya penggemar fanatik jus apel. Saya terkadang bisa dibilang mood-mood-an, kalau sedang pengen jus apel ya jus apel. Bukan berarti itu minuman favorite saya. hehe. Sama seperti ketika di Jepang, saya selalu memilih ocha (teh hijau) untuk menemani menu makan saya. Bukan berarti saya penggemar fanatik teh hijau. hehe. Oh ya, uniknya orang Jepang di sebelah saya memilih makanan Indonesia. Ya, kita sepemikiran berarti. hehe. Bedanya minuman yang dia pesan adalah bir merk Asahi. Saya jus apel. hehe.

Saya menikmati santapan siang sambil menikmati film Kimi no Nawa. Film animasi Jepang yang sempat booming di mana-mana, sehingga saya tentu penasaran ingin menontonnya. Review saya, film tersebut recommended untuk anak muda atau orang dewasa yang berjiwa anak muda. hehe. Karena filmnya memang dibuat untuk genre anak muda, dibilang mendekati genre percintaan anak muda ya tidak sampai situ, karena inti utama filmnya memang bukan di percintaan. Percintaan hanya sedikit bumbu/penyedap dari inti cerita film tersebut. Film ini sangat unik menurut saya. Bagaimana pembuat film bisa membuat film dari ide/konsep komet unik yang melewati bumi setiap sekitar 1200 tahun sekali. Komet tersebut menghancurkan daerah Ittomori, sehingga daerah tersebut hancur tak bersisa menjadi danau. Hal yang unik adalah, pada saat awal film kita disajikan bagaimana komet tersebut mempunyai efek magis menukar jiwa seorang cewek muda bernama Mitsuki dengan cowok muda bernama Taki. Mitsuha adalah seorang siswi SMA di desa Ittomori, kehidupannya sangat tradisional. Sedangkan Taki adalah siswa SMA di kota besar (Tokyo). Yak, cerita lengkapnya nonton saja sendiri ya hehe.

Menjelang waktu sore kami diberikan sajian terakhir, es krim merk Meiji serta minuman (lagi). Karena saat kacang sudah minum, makan siang juga minum, saya merasa kalau saya minum jus apel lagi rasanya sudah tidak nikmat lagi sehingga saya tidak memesan minuman. Sedangkan orang Jepang di sebelah saya memesan soda (cola) setelah sebelumnya memesan bir asahi dua kali (bosen juga kan minum minuman yang sama dua kali? hehe).  Awalnya saya pikir akan diberikan orange juice lagi karena bentuk kemasannya sama, ternyata es krim dan rasanya juga enak. Saya bukan pecinta es krim jadi tidak semua es krim akan saya nilai enak. Saya langsung tanpa basa basi melahap es krim tersebut sambil menikmati film ketiga, Rudy Habibie. Film ini menceritakan kisah presiden ketiga Indonesia semasa kuliah di Jerman. Bagaimana beliau berniat menginisiasi pembentukan PPI di sana, serta memelopori project industri aerospace di Indonesia yang mendapat begitu banyak pertentangan/halangan. Dari film tersebut saya merasakan elit-elit penguasa sangat alergi terhadap orang yang akan menyaingi mereka (sampai saat ini). Susah liat orang senang, senang liat orang susah. Yang penting dirinya hidup enak. Sifat ini perlu kita jauhi sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai ciptaan yang terbaik. Maka nilai-nilai kehidupan / kemanusiaan pun harusnya kita junjung tinggi.

Memasuki daerah Jakarta awannya mendung, cuaca hujan. Kami mendarat di bandara Soekarno-Hatta pukul 17.43 WIB. 30 menit sebelum mendarat saya mengisi lembar embarkasi dari bea cukai, dan mengganti kartu provider handphone saya kembali ke kartu provider Indonesia. Saya turun dan langsung menuju ke bagian imigrasi. Antrian cukup panjang dan tidak ada yang mengatur. Saya langsung diingatkan kembali bahwa inilah bedanya Jepang dengan Indonesia. Di sana serba teratur, bayangkan, jumlah penumpang segitu banyaknya diatur untuk antri sampai harus melewati 10 kali lika-liku garis "labirin" yang saya ceritakan sebelumnya. Sedangkan di Indonesia yang jumlah antriannya pada saat saya mengantri di bagian imigrasi jauh lebih sedikit dari itu tapi antriannya berantakan dan tidak ada petugas yang mengatur. Alhasil ada orang-orang yang tidak ke imigrasi tapi tidak bisa lewat karena terhalang oleh orang-orang yang mengantri ke bagian imigrasi di belakang saya. Bahkan ada ibu-ibu yang nyelak antrian saya haha. Saya mau menegur juga percuma karena pasti saya yang akan terlihat aneh "halah cuma gitu aja". Ya, begitulah. Kalau mereka merasa salah, tentu tidak akan menyelak kan? Karena mereka merasa benar, ditegur pun tidak akan berdampak signifikan.

Selepas dari bagian imigrasi saya langsung menuju ke pengambilan bagasi untuk kemudian melanjutkan ke pemeriksaan bea cukai. Saya termasuk yang datang pertama karena tempat duduk saya termasuk yang paling depan di pesawat. Turun juga termasuk yang duluan. Saya menunggu di line conveyor belt nomor 7 untuk GA 889 dari Kansai. 10 menit saya menunggu akhirnya belt conveyor mulai berjalan tanda bahwa bagasi penumpang sudah mulai disalurkan. Saya menunggu satu persatu koper dan barang yang lewat. Sampai 18.30 WIB koper saya belum juga terlihat. Saya mulai berpikir "kok lama ya?" logikanya pesawat mendarat 17.45 WIB masa' 18.30 (45 menit setelah landing) penumpang belum selesai juga urusannya dari bandara. Kemudian sampai 18.45 WIB koper saya belum juga terlihat dan belt conveyor pun sudah dihentikan. Porter-porter di sekitar saya yang juga menunggu barang "tuan"-nya lewat langsung menanyakan ke petugas yang menyalurkan "mana lagi ini? masih banyak nih yang belom dapet". Apa jawaban dari orang yang menyalurkan? "sudah habis nih pak. Ini sekarang lagi nunggu yang dari maskapai Air Asia". Walah... gimana ceritanya barang-barang kami "gak ada". Porter-porter pun ikut protes dan kesal "kalo hilang/kelewatan mah cuma 1-2, ini masih banyak begini yang belum dapat. Yang bener aja pak". Penumpang pun sudah mulai kesal termasuk saya. Saya kesal bukan karena masalah telat/lama, it's ok kalau memang ada kendala atau apapun terserah lah. Yang saya kesalkan adalah tidak adanya petugas yang bertanggung jawab di situ. Tidak ada supervisor yang datang kepada kami memberikan penjelasan, minta maaf, atau mencoba mencarikan solusinya. Lagi-lagi saya diingatkan kembali "inilah Indonesia". Negara lain kaya bukan karena mereka "maju darisononya", bukan sama sekali, kitanya yang terlalu tertinggal. Bayangkan, 1 jam sejak saya tiba di Indonesia saja saya sudah diperlihatkan ketidakprofesionalan 2 kali. Dari masalah antrian, sampai tidak ada petugas yang bertanggung jawab ketika ada masalah di pengambilan bagasi. Hal sepele seperti mendampingi para konsumen saja tidak dilakukan. Hal dasar saja tidak dilakukan. Betapa masuk akalnya kenapa negara ini begitu tertinggal.
Akhirnya dari kabar burung yang saya dengar katanya "masih ada pak, iya, sedang diantarkan lagi ke conveyor belt".

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat. Saya sudah tidak konsentrasi lagi melihat persisnya saat itu jam 7 lewat berapa menit karena otak saya dipenuhi keheranan "ke mana petugas yang bertanggung jawab? Apa begini cara mereka bekerja/menjalankan tugasnya? Apa susahnya datang berbicara pada kami minimal meminta maaf. Paling tidak jalankan etika itu saja dulu". Akhirnya sekitar 19.15 WIB bagasi dari GA 889 kembali terlihat, barang-barang dari rombongan kami juga mulai terlihat lagi. Tidak lama kemudian saya melihat koper saya dan langsung saya ambil untuk menuju ke bagian bea cukai. Di bagian bea cukai ransel, paket kardus oleh-oleh, dan koper saya tidak dicek. Yang ditanya malah "apa itu yang ada di jaket kamu?" belum saya jawab, petugas sudah meraba kantong-kantong jaket saya "Oh handphone. Oh dompet. Yak silahkan jalan". Ya, saya selalu memasukkan jam, handphone, dompet ke jaket saya agar lebih praktis ketika dimasukkan ke tray untuk diperiksa di X-ray. Sehingga pada saat itu benda-benda tersebut ada di kantong jaket saya sehingga kantong-kantong jaket saya terlihat tebal dan mencurigakan (?).

Akhirnya saya berhasil keluar dari bandara, bertemu dengan orang tua yang menjemput saya. 20.22 WIB saya sudah keluar tol dan sekitar 20.45 WIB saya sudah tiba di rumah. Setibanya di rumah saya langsung mengeluarkan isi tas, koper, oleh-oleh, kemudian saya mandi untuk membersihkan badan sekaligus menyegarkan tubuh saya dari segala kekacauan di bandara. hehe.

Sabtu, 21 September 2013

Anak Kecil Yang Takut Kepada Allah


 Happy weekend buat seluruh pembaca blog ini di manapun anda berada....semoga weekend pekan ini menjadi waktu anda beristirahat dan berkumpul dengan orang-orang terdekat anda. Semoga dengan adanya weekend ini anda dapat kembali beraktivitas secara optimal baik itu di sekolah maupun di tempat kerja masing-masing.

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi sedikit cerita yang saya dapatkan dari seorang teman. Hikmah cerita ini lebih ditujukan untuk generasi muda kita. Di mana fenomena yang biasa terjadi adalah anak-anak muda saat ini masih enggan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Anda bisa melihat ketika sholat subuh di masjid persentase anak muda yang hadir sangatlah kecil atau bahkan bisa sama sekali tidak ada. Sholat berjamaah di masjid kecenderungannya didominasi oleh generasi tua.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda ada 7 golongan manusia yang dijaga oleh Allah SWT di hari akhir kelak, yaitu:

1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang masa mudanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT
3. Orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid
4. Orang yang saling berkasih sayang, bertemu dan berpisah karena Allah SWT
5. Lelaki yang digoda oleh perempuan untuk berbuat maksiat namun ia menolak karena takut kepada Allah SWT
6. Orang yang bersedekah secara diam-diam
7. Orang yang selalu mengingat (berdzikir) Allah SWT ketika sendirian hingga mengalir air matanya.

"Pemuda yang masa mudanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT"....maksud dari kalimat "masa muda yang dihabiskan untuk beribadah" bukan berarti pemuda tersebut selama 24 jam penuh hanya mengurung diri melakukan ibadah dalam bentuk ritual seperti sholat, memuji Allah, bersedekah, dan membaca Al-Qur'an saja namun melupakan interaksi dengan makhluk sosial lainnya. Ibadah itu lingkupnya sangat luas. Selain hal-hal yang disebutkan tadi, ibadah juga melingkupi interaksi seseorang dengan makhluk sesama. Seperti tersenyum saat bertemu teman, belajar di sekolah, mencari nafkah untuk keluarga, membuang sampah pada tempatnya, makan & tidur untuk menjaga kesehatan, dan segala bentuk kebaikan lainnya yang didasari karena Allah SWT.

Di bawah ini ada sebuah kisah yang bercerita tentang Abu Yazid Al-Bustami dengan anaknya yang masih kecil. Semoga menjadi bahan introspeksi bagi kita semua. :)



Suatu hari Abu Yazid al-Busthami menunaikan shalat tahajud. Tiba-tiba anaknya yang masih kecil berdiri shalat di sampingnya. Abu Yazid merasa kasihan melihat anaknya yang masih kecil itu ikut shalat bersamanya, karena umumnya anak-anak kecil seusianya tidur di saat malam yang larut, apalagi malam itu udara terasa begitu dingin, orang-orang dewasa pun akan merasa berat meninggalkan tempat tidur mereka.
Abu Yazid berkata pada anaknya, “Tidurlah wahai anakku, malam masih panjang.”
Anaknya menjawab, “Lalu mengapa ayah shalat?”
Abu Yazid mengatakan, “Anakku, aku memang dituntut untuk shalat malam.”
Anaknya malah menjawab dengan hafalan ayat Alquran yang ia hafal, “Aku telah menghafal sebagian firman Allah yang berbunyi ‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri shalat kurang dari dua pertiga malam atau seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan orang-orang yang bersama kamu (Nabi)’. Lalu siapa orang-orang yang berdiri shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Abu Yazid menjawab, “Tentu saja para sahabat beliau.”
Anak Abu Yazid kembali mengatakan, “Jangan menghalangiku untuk meraih kemuliaan menyertaimu dalam ketaatan kepada Allah.”
Abu Yazid dengan penuh kekaguman berkata, “Anakku kamu masih bocah dan belum mencapai usia dewasa.”
Anaknya menjawab, “Ayah, aku melihat ibu sewaktu menyalakan api dia memulai dengan potongan-potongan kayu kecil untuk menyalakan kayu-kayu yang besar. Maka aku takut Allah memulai dengan kami para anak kecil sebelum orang-orang dewasa pada hari kiamat nanti, jika kita lalai dari ketaatan kepada-Nya.”
Abu Yazid pun tersentak dengan ucapa anaknya itu dan kagum dengan rasa takut kepada Allah yang dimiliki anaknya walaupun masih sangat kecil. Abu Yazid berkata, “Anakku berdirilah. Kamu lebih berhak dengan Allah daripada bapakmu.”

Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf
sumber: www.KisahMuslim.com

Minggu, 08 September 2013

14 Ciri Kepribadian Introvert

Lagi iseng-iseng baca artikel di detik.com ketemu artikel tentang 14 tanda apakah anda seorang yang introvert? Nah, berdasarkan tes-tes kepribadian abal-abal di media sosial biasanya saya dikategorikan sebagai orang yang yang memiliki kepribadian introvert. Hanya saja saya masih belum jelas memahami seperti apa karakter introvert itu? mengapa kepribadian saya dikategorikan sebagai introvert? Setelah membaca artikel tersebut saya menjadi paham mengenai karakter introvert. Yuk, mari kita cek apa saja 14 tanda seseorang memiliki kepribadian introvert...

Seseorang yang memiliki kepribadian introvert umumnya lebih suka melakukan segala sesuatunya sendiri. Berbeda dengan orang ekstrovert yang cenderung blak-blakan, orang introvert cenderung sulit mengungkapkan pemikiran dan pendapatnya di hadapan orang lain.

Tidak ada kepribadian yang diklaim sebagai kepribadian paling baik di dunia ini. Apalagi nasib seseorang tidaklah ditentukan oleh kepribadiannya. Aneka kepribadian manusia di muka Bumi ini saling melengkapi manusia satu dengan lainnya. Dan bukankah berbeda itu indah?

Nah, introvet hanyalah salah satu jenis kepribadian manusia yang dikenal. Sebenarnya tidak mudah menemukan seseorang dengan kepribadian introvert. Apalagi kerap juga seseorang tidak menyadari dirinya introvert, apalagi jika orang tersebut bukanlah seorang yang pemalu.

Tidak ada yang salah menjadi seorang introvert, ekstrovert, ataupun ambivert. Hanya saja, dengan mengenal kepribadian diri sendiri dan orang lain maka akan lebih memudahkan dalam memahami satu sama lain. Nah berikut ini ciri-ciri seseorang yang memiliki kepribadian introvert, seperti dikutip dari Huffington Post, Jumat (23/8/2013):

1. Tidak Suka Basa Basi
Orang yang introvert dikenal fobia-basa basi, karena mereka merasakan omong kosong menjadi sumber kecemasan, atau setidaknya menjengkelkan. "Introvert benci basa basi bukan karena tidak suka dengan orang-orang. Tapi kami membenci basa basi karena bisa menjadi hambatan yang tercipta di antara orang-orang," tulis Laurie Helgoe di buku 'Introvert Power: Why Your Inner Life Is Your Hidden Strength.'

2. Pergi ke Pesta Bukan untuk Bertemu Orang
Jika Anda seorang introvert, Anda bisa jadi terkadang menikmati pergi ke pesta. Tapi kemungkinannya adalah Anda tidak pergi ke pesta karena Anda bersemangat bertemu dengan orang baru. Di pesta, kebanyakan introvert akan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang sudah mereka kenal dan merasa nyaman.

3. Merasa Sendiri di Keramaian
Mungkin Anda sering merasa seperti asing di tengah-tengah perkumpulan sosial dan kegiatan kelompok, bahkan dengan orang yang Anda kenal? "Jika Anda cenderung menemukan diri Anda merasa sendiri di tengah keramaian, Anda mungkin seorang introvert," kata Dambling.

4. Mudah Terganggu
Sementara ekstrovert cenderung mudah bosan ketika mereka tidak memiliki kegiatan, introvert memiliki masalah sebaliknya. Mereka mudah terganggu dan kewalahan di lingkungan yang kelebihan stimulus.

"Ekstrovert umumnya lebih mudah bosan daripada introvert pada pekerjaan yang monoton, mungkin karena mereka membutuhkan dan berkembang pada tingkat tinggi stimulasi," kata peneliti Clark University di makalah yang diterbitkan di Journal of Personalitu and Social Psychology.

5. Bicara di Depan 500 Orang Tidak Terlalu Membuat Stres Dibanding Harus Berbaur Setelahnya
Introvert bisa menjadi pemimpin yang sangat baik dan seorang pembicara yang baik juga. Mereka tidak terlalu pemalu sebenarnya karena tidak selalu menghindari sorotan. Bagi seorang introvert, berbicara di depan ratusan orang masih lebih baik ketimbang berbaur dengan orang-orang itu setelahnya.

Artis seperti Lady Gaga, Christina Aguilera dan Emma Watson, semuanya diidentifikasikan sebagian para introvert, dan sekitar 40 persen dari CEO memiliki kepribadian introvert.

6. Saat di Bis, Anda duduk di Bangku Paling Pojok, Bukan di Tengah
Orang yang introvert cenderung menghindari dikelilingi orang di semua sisi. "Kami kemungkinan untuk duduk di tempat-tempat di mana kita bisa pergi ketika kita siap," tutur Damling.

7. Memiliki Kekasih Ekstrovert
Benar bahwa yang berlawanan itu menarik, sehingga introvert seringnya tertarik pada ekstrovert. Sebab seorang ekstrovert akan mendorong mereka untuk bersenang-senang dan tidak terlalu serius.

8. Menyaring Telepon
Anda mungkin tidak mengangkat telepon sekalipun dari orang yang Anda suka, namun Anda akan menelepon balik mereka setelah Anda siap secara mental dan mengumpulkan energi untuk perbincangan.

9. Anda Memperhatikan Detail yang Orang Lain Tidak Lakukan
Sisi positif dari introvert adalah sering memiliki mata yang tajam untuk melihat hal detail, yang mungkin tidak dilihat orang di sekitarnya. Penelitian menemukan bahwa introvert menunjukkan peningkatan aktivitas otak saat memproses informasi visual, dibandingkan dengan ekstrovert.

10. Sering Berbicara dalam Hati
"Ekstrovert tidak berbicara dalam hati seperti yang kami lakukan. Kebanyakan introvert perlu berpikir sebelum bicara," tutur Olsen Laney.

11. Tekanan Darah Rendah
Studi di Jepang tahun 2006 menemukan bahwa introvert cenderung memiliki tekanan darah rendah daripada ekstrovert.

12. Anda Seorang Penulis
Introvert sering lebih baik berkomunikasi lewat tulisan daripada secara langsung. Kebanyakan mereka tertarik untuk menyendiri, sehingga cocok sebagai penulis kreatif. Introvert yang sukses dalam bidang tulis menulis adalah pengarang 'Harry Potter', J.K Rowling. JK Rowling mengatakan mereka merasa lebih kreatif ketika memiliki waktu sendiri dengan pikirannya.

13. Anda Memiliki Periode Kegiatan Sosial, Kerja dan Kesendirian
Introvert bisa bergerak dengan menentukan bagaimana mereka harus menyeimbangkan kesendirian dengan aktivitas sosial. Tapi ketika mereka bergerak terlalu banyak dalam sosialisasi dan kesibukan, mereka merasa tertekan dan perlu untuk kembali ke diri mereka sendiri. Demikian pendapat Olsen Laney.

Artinya setelah para introvert melewati periode kegiatan sosial tinggi, mereka kemudian menyeimbangkan dengan periode kebatinan dan kesendirian. "Ada titik pemulihan yang tampaknya berkorelasi dengan berapa banyak interaksi yang Anda lakukan," kata Dembling.

14. Terlihat Bijaksana Sejak Usia 20 -an
Orang yang introvert akan mengobservasi dan mengambil banyak informasi. Mereka juga cenderung berpikir sebelum bicara sehingga membuat mereka terlihat lebih bijaksana daripada yang lainnya.

"Orang yang introvert cenderung berpikir keras dan analitis. Itu yang membuat mereka tampak bijaksana," ujar Dambling.

(vit/vit


sumber: http://health.detik.com/read/2013/08/23/120256/2338574/763/apakah-anda-berkepribadian-introvert-cek-14-tanda-ini

My Playlist