Jumat, 19 April 2013

Chelsea FC


Saat saya masih kecil liga Inggris tidak begitu familiar dengan saya, saat itu liga calcio (liga Itali) lebih dominan di layar televisi rumah kami. Saat itu saya pendukung klub AS Roma bertepatan dengan saat mereka meraih scudetto. Selang beberapa tahun kemudian popularitas liga Itali menurun drastis setelah banyak pemain bintangnya yang hengkang dan adanya skandal pengaturan skor yang dilakukan oleh beberapa klub. Sejak saat itu saya tidak begitu suka menyaksikan pertandingan sepak bola dan lebih berminat menonton pertandingan basket khususnya NBA. Alasan saya simple, pertandingan sepak bola durasinya terlalu lama ditambah bisa saja skor akhir 0-0. Buat saya itu membosankan. Berbeda sekali dengan NBA di mana pasti adanya pencetakan angka dan mustahil berakhir dengan hasil imbang. Ditambah kualitas pertandingan NBA saat itu sangat atraktif untuk ditonton.  Namun, sejak saya kuliah di luar kota di mana saya tidak lagi tinggal bersama keluarga saya otomatis saya tidak bisa lagi menikmati fasilitas cable tv di rumah yang notabene akses saya menyaksikan pertandingan NBA.

Namun, jiwa olahraga saya tidak bisa tinggal diam. Hidup saya ada yang kurang jika tidak berhubungan dengan hal yang berbau olahraga. Saya gemar bermain sepak bola, basket, dan pernah menekuni bela diri. harus ada yang saya tonton untuk menjadi inspirasi saya ketika bermain. Akhirnya, saya mulai menyaksikan liga Inggris yang biasanya disiarkan setiap akhir pekan. Mulai saat itu saya mulai familiar dengan permainan di liga Inggris dan menurut saya cukup seru karena kualitas antara tim papan atas dan papan bawah tidak begitu jauh. Kedua tim bisa sama-sama menekan dan mencetak gol jika ada peluang. Walaupun saya mulai rutin menyaksikan liga Inggris, belum ada tim yang memikat hati saya.

Semua berawal ketika sosok asisten pelatih Roberto di Matteo muncul menggantikan pelatih Chelsea saat itu Andreas Villas Boas. Saya dulu tidak begitu suka dengan klub kaya dengan pemain bertabur bintang (karena cenderung individualis), termasuk Chelsea. Namun di tangan Roberto Di Matteo semua berubah. Klub yang permainan dan prestasinya hampir porak-poranda itu menjadi tim yang saya sebut sebagai pejuang (fighter). Perlahan namun pasti Roberto Di Matteo menyelamatkan wajah klub besar tersebut. Sosoknya yang sederhana dan tidak arogan membuat saya respect saat itu. Puncaknya adalah ketika di semifinal liga Champion Chelsea berhasil melewati klub raksasa Barcelona dengan pemain bintangnya Lionel Messi dan pemain-pemain kelas satu lainnya. Pertandingan leg-2 di Camp Nou kandang Barcelona berjalan sangat tidak imbang. Gempuran pemain Barcelona tidak henti-hentinya dilakukan. Bisa dibilang Chelsea bermain total defence (bertahan total). Tidak ada pemain Chelsea yang berada di depan garis tengah lapangan. Malapetaka terjadi ketika defender sekaligus kapten Chelsea John Terry diganjar kartu merah. Sosok yang begitu vital dan penting harus keluar dan Chelsea harus bermain 1 orang lebih sedikit dibandingkan lawannya. Seketika Barcelona langsung unggul cepat 2-0 (aggregat 2-1). Namun, seperti yang saya bilang di awal Chelsea adalah tim pejuang. Di saat mereka terus ditekan tanpa henti, Lampard berhasil memberikan umpan matang pada Ramires dan diselesaikan dengan cantik menjadi sebuah gol pengejar ketinggalan. Skor menjadi 2-1 (agregat 2-2). Dewi fortuna menghampiri Chelsea ketika menjelang berakhirnya pertandingan. Umpan jauh Ashley Cole dari pertahanan Chelsea ke tengah lapangan tidak disadari oleh para pemain Barcelona yang begitu asik menyerang. Torres menyambut umpan tersebut melewati Puyol dan menggiring bola sampai masuk ke dalam kotak penalty dan berhasil mengecoh kiper Barcelona Victor Valdes. Seorang Torres yang saat itu diragukan kemampuannya pasca cedera melesakkan bola ke dalam gawang dan berbuah gol yang memastikan Chelsea lolos ke babak final liga champion. Tim raksasa Spanyol dan juara bertahan liga champion itu harus takluk dengan realita di lapangan.

Pada malam berlangsungnya final liga champion antara Bayern Muenchen vs Chelsea, melihat perjuangan Chelsea saat bermain melawan Barcelona di semifinal membuat saya berkata,"saya akan mendukung Chelsea!". Secara kasat mata sudah jelas pertandingan tidak imbang. Chelsea yang prestasinya di liga Inggris peringkatnya keluar dari zona liga champion dengan pelatih yang baru saja dipecat melawan tim yang sudah matang, pimpinan klasemen liga Jerman, kualitas pemain yang hampir setara dengan Barcelona dengan dominan pemain timnas Jermas yang menjadi runner up piala dunia. Benar saja, pada menit awal Thomas Mueller berhasil membuat unggul Bayern Muenchen dan meningkatkan dominasi mereka atas Chelsea di lapangan. Memasuki menit ke-80 Chelsea masih kesulitan mengembangkan permainan, Bayern Muenchen terlalu sempurna untuk dikalahkan. Melihat keadaan yang cukup dapat diprediksi hasil akhirnya pelatih Bayern Muenchen mulai menarik keluar satu per satu pemain bintangnya untuk diistirahatkan. Supporter tuan rumah sudah bersorak-sorai menanti peluit berakhirnya pertandingan. Chelsea masih terus berjuang hingga pertandingan usai. Pada menit ke-83, berawal dari sepak pojok yang dilakukan oleh Juan Mata disambut sundulan keras yang mengarah ke dalam gawang oleh striker tunggal Chelsea Didier Drogba. Keadaan berubah seketika menjadi 1-1. Masih terbuka peluang dan harapan untuk meneruskan pertandingan ini. Peluit pun dibunyikan tanda pertandingan babak kedua selesai dan harus memasuki babak perpanjangan waktu. Di babak perpanjangan waktu, jalannya pertandingan tidak berbeda jauh. Muenchen terus menekan, hingga Drogba pahlawan Chelsea di babak kedua tadi tidak sengaja mengganjar Frank Ribery di kotak terlarang. Penalty pun diberikan. Sorak-sorai pendukung tuan rumah kembali terdengar. 1 gol saja rasanya sudah cukup untuk memenangkan pertandingan melihat permainan Chelsea yang selalu dalam posisi sulit. Hanya jika terjadi keberuntungan seperti di babak kedua saja Chelsea mungkin dapat membalas kembali. Eksekusi dilakukan oleh Arjen Robben.Tendangan keras kaki kirinya berhasil ditangkap oleh Peter Cech. Skor masih imbang 1-1 dan dilanjutkan ke babak penalty. Dalam sejarah klub Chelsea, Chelsea tidak pernah berhasil memenangkan babak adu penalty. Saat itu saya merasa kalaupun Chelsea kalah, saya sudah cukup puas dengan perjuangan mereka. Tidak dipungkiri, berhasil mengalahkan tim sekelas Barcelona dan menahan imbang Bayern Muenchen hingga ke babak adu penalty sudah menggambarkan perjuangan yang dilakukan oleh tim ini. HASIL TIDAK PENTING, SAYA LEBIH SUKA MELIHAT PROSES.
Babak penalty pun berlangsung dan pasti membuat semua yang menyaksikan merasakan dag dig dug di jantungnya. Eksekutor pertama dari Bayern Muenchen adalah kapten Philip Lahm, tendangannya berhasil mengenai tangan Peter Cech namun tetap berhasil masuk ke dalam gawang. Eksekutor dari Chelsea dilakukan oleh Juan Mata yang merupakan playmaker dari Chelsea. Tendangannya mengarah ke kiri gawang dan berhasil diantisipasi oleh kiper Neuer. Lagi-lagi posisi Chelsea menjadi sulit dan pendukung tuan rumah bersorak-sorai menyambut kegagalan eksekusi Juan Mata yang berarti selangkah di depan Chelsea dalam perebutan juara liga champion. Eksekutor berikutnya adalah striker utama Muenchen Mario Gomez, tendangannya mengarah ke kiri gawang dan tidak berhasil dijangkau Peter Cech. Dukungan supporter tuan rumah terdengar semakin keras. Eksekutor berikutnya adalah defender David Luiz, tendangan kerasnya ke pojok kiri atas gawang salah diantisipasi oleh kiper Neuer yang bergerak ke kanan. Eksekutor berikutnya yang mengejutkan para penonton adalah kiper Muenchen sendiri yaitu Neuer, saya dan keluarga cukup terkejut melihat seorang kiper yang mengeksekusi tendangan penalty. Ayah saya sampai berkata, "berarti kiper ini punya percaya diri yang tinggi, berani mengeksekusi tendangan penalty." Buat saya tindakan Neuer tersebut agak merendahkan Chelsea, sekaligus menjadi peluang buat Chelsea jika saja dia gagal. Tendangan sudah dilakukan, arah tendangannya tidak terlalu kencang dan mengarah ke kanan gawang namun Peter Cech tidak berhasil menghalaunya. Eksekutor berikutnya adalah kapten Chelsea malam itu Frank Lampard yang menggantikan kapten John Terry yang tidak dapat bermain akibat kartu merah saat berhadapan dengan Barcelona. Tendangan kerasnya ke tengah gawang tidak dapat dihentikan oleh Neuer. Eksekutor berikutnya dilakukan oleh striker Ivic Olic, tendangannya ke kiri gawang berhasil dihalau Peter Cech. Eksekutor berikutnya adalah defender Ashley Cole, tendangannya keras mengarah ke kiri gawang dan tidak dapat diantisipasi oleh kiper Neuer. Keadaan menjadi imbang 3-3. Eksekutor berikutnya adalah Sebastian Schweinsteiger yang dikenal memiliki tendangan keras. Tendangan telah dilakukan, tidak terlalu keras dan mengarah ke kiri gawang. Tendangannya tidak dapat dihalau oleh Peter Cech namun membentur tiang gawang dan tidak menghasilkan gol. Seketika Schweinsteiger langsung menutupi wajahnya dengan  bajunya. Seketika tim yang berada di atas angin tersebut berubah ke dalam posisi sulit. Jika Eksekutor Chelsea berikutnya berhasil menceploskan bola ke dalam gawang maka pertandingan berakhir untuk kemenangan Chelsea. Eksekutor berikutnya adalah Drogba, Drogba hanya diam dan fokus menatap gawang. Memutuskan ke arah mana harus dia arahkan bola tersebut. Kemenangan Chelsea ada di pundaknya. Dia harus melakukannya dengan benar. Tanpa ancang-ancang terlebih dahulu Drogba langsung menendang. Tendangan yang dilakukan tiba-tiba tersebut mengarah ke kanan gawang. Kiper Neuer terlambat bereaksi dan salah mengantisipasi bola. Bola bergulir masuk ke dalam gawang. Bersamaan dengan gol tersebut disahkan oleh wasit terlihat nama Chelsea langsung diukir di piala liga champion, menandakan juara liga champion sudah ditentukan. Chelsea FC menjadi juara liga champion untuk pertama kalinya dalam sejarah klub tersebut. Semua pemain Bayern Muenchen terjatuh lesu di lapangan seakan tidak dipercaya dominasi dan kemenangan di depan mata mereka diambil begitu saja. Tidak terkecuali Sebastian Schweinsteiger, wajah dan kepalanya masih tertutup seragam timnya dan tersungkur di lapangan menyesali kegagalannya mengeksekusi penalty. Kakak saya yang selalu mendukung negara dan klub Jerman juga merasa tidak percaya. Di keluarga kami, hanya saya yang mendukung Chelsea, ayah dan ibu saya bukan pendukung sejati Bayern Muenchen seperti kakak saya, hanya menjagokan Muenchen untuk menang di pertandingan tersebut. Dan mereka pun bingung mengapa saya bisa mendukung Chelsea, ditambah tebakan saya benar Chelsea juara pada malam itu. Sejak malam itu, saya berkata "musim depan, saya akan mendukung Chelsea di liga Inggris."


Musim liga premier Inggris 2012-213 sudah hampir berakhir, puncak klasemen ditempati oleh MU. Sedangkan Chelsea masih mempertahankan posisi zona liga champion di peringkat 4 besar. Permainan Chelsea musim ini terbilang naik turun, di awal musim mereka bermain sempurna dengan tidak pernah kalah dan memuncaki klasemen sementara. Namun, karena beberapa pemain cedera dan faktor kelelahan Chelsea harus tersingkir di babak penyisihan liga champion. Sejak saat itu, Roberto Di Matteo dipecat dan digantikan oleh Rafael Benitez. Sejak saat itu performa tim naik turun. Menjelang berakhirnya musim sepertinya Rafael Benitez mulai memahami karakter dan permainan Chelsea. Permainan Chelsea pun mulai kembali. Saat ini Chelsea diperkuat oleh pemain-pemain yang komplit. Sebagian besar belum memiliki nama besar, namun kualitasnya sudah di atas rata-rata.

1. Peter Cech
Menurut saya Peter Cech merupakan salah satu kiper terbaik yang pernah ada, kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Saya sangat berterima kasih sekali dengan Cech, dengan kemampuannya yang gemilang dan usia yang belum terlalu tua dia masih setia bertahan di Chelsea. Padahal dia sudah jatuh bangun sampai mengalami cedera parah di kepala dalam usahanya menjaga gawang Chelsea namun Peter Cech tidak kapok dan masih setia di Chelsea.

2. Branislav Ivanovic
 Di awal musim Ivanovic bermain di posisi bek kanan dan sering membantu serangan. Ivanovic merupakan salah satu defender yang paling banyak mencetak gol di musim ini. Saat ini dia bermain sebagai bek tengah karena bek kanan saat ini diisi oleh Azpilicueta yang permainannya sangat gemilang dan cocok mengisi bek kanan.

3. Ashley Cole
Ashley Cole adalah bek kiri Chelsea, posturnya tidak terlalu tinggi dibandingkan defender Chelsea lainnya namun sangat gesit. Dapat membantu penyerangan dan bertahan sekaligus. Dalam urusan bertahan Ashley Cole akan mengikuti pergerakan lawan dengan baik dan jika waktunya tepat bola akan dihalau tanpa harus melakukan pelanggaran.

4. David Luiz
David Luiz adalah salah satu pemain favorite saya di Chelsea. Semua defender Chelsea dapat menyerang dengan baik namun tidak melupakan pertahanan. David Luiz ada di posisi bek tengah sehingga keberadaannya sangat krusial bagi pertahanan. David Luiz adalah pemain serba bisa. Pertahanannya sangat baik, umpan-umpannya sangat baik, dan mampu mengeksekusi tendangan bebas (long range shoot). Sekali waktu David Luiz dimainkan sebagai gelandang bertahan dan permainannya sangat luar biasa. Saat itu Chelsea menghajar Aston Villa 8-0.

7. Ramires
Ramires dapat bermain di sayap kanan maupun sebagai gelandang bertahan mendampingi Frank Lampard. Posturnya tidak tinggi dan cukup kurus. Hanya saja permainannya gesit dan punya kemampuan mencetak gol. Dribelnya yang menerobos sering merepotkan lawan dan terpaksa harus dilanggar untuk menghentikannya.

8. Frank Lampard
Frank Lampard adalah salah satu pemain senior dan dihormati di Chelsea bersama dengan John Terry. Posisinya adalah gelandang serang namun sejak era pelatih Roberto Di Matteo Lampard bermain sebagai gelandang bertahan namun tetap membantu penyerangan. Lampard dapat dikatakan gelandang tersubur dalam hal mencetak gol. Dia adalah satu-satunya pemain di liga inggris yang bisa mencetak minimal 10 gol dalam 1 musim selama 10 musim berturut-turut. Lampard adalah otak permainan Chelsea. Posisinya sentral. Bertahan dan menyerang serta mengatur permainan. Spesialisasinya adalah tendangan bebas dan tendangan jarak jauh.

9. Fernando Torres











Torres adalah salah satu striker paling berbahaya sebelum di Chelsea, namun cedera panjang mempengaruhi permainannya sehingga tidak setajam dulu. Dia punya kecepatan dan naluri mencetak gol. Selalu mencetak gol di saat-saat kritis. Sayangnya permainannya masih naik turun.

10. Juan Mata












Juan Mata saat ini bermain sebagai gelandang serang, berada 1 baris di belakang striker tunggal. Juan Mata merupakan pemain dengan kemampuan yang cukup komplit. Drible, passing, scoring, dan memiliki kecepatan. Lini tengah Chelsea merupakan salah satu yang terbaik dan paling produktif. Bersama dengan Eden Hazard, Ramires, Oscar, dan Lampard menjadikan lini tengah Chelsea sangat ditakuti. Mereka bisa mencetak gol, bertukar posisi, memberikan umpan matang, dan bertahan sama baiknya.

11. Oscar










Pemain muda asal Brazil ini memang tidak sematang Eden Hazard atau Juan Mata, namun cukup membantu keduanya dalam melakukan serangan. Bermain di sayap kanan sering kali saat bermain dia bertukar posisi dengan Eden Hazard untuk membingungkan pemain lawan.

12. Obi Mikel









Obi Mikel bermain sebagai gelandang bertahan bersama dengan Lampard atau Ramires. Tidak seperti Lampard atau Ramires, Obi Mikel di posisikan lebih bertahan (gelandang bertahan murni). Bertugas untuk memotong aliran bola dan memberi supply bola untuk penyerangan.

13. Victor Moses









Victor Moses bermain sebagai sayap dan lebih sering diposisikan sebagai sayap kanan. Saat ini status Moses adalah pemain cadangan, namun ketika bermain sebagai starter Moses tidak terlihat seperti pemain dari bangku cadangan. Pemain ini bertubuh gempal namun memiliki kecepatan dan drible yang cukup baik serta mampu mencetak gol.

17. Eden Hazard














Hazard adalah pemain yang selalu saya tunggu setiap Chelsea bermain. Usianya sama dengan Oscar namun dari segi kematangan dan kualitas permainan hampir sama dengan Juan Mata. Posisinya saat ini adalah sayap kiri. Hazard ini tidak jelas apakah dia seorang yang kidal atau bukan. Kedua kakinya sama baiknya. Memiliki kecepatan, drible yang agresif, umpan yang akurat, tendangan yang keras dan terarah, serta visi permainan. Bersama dengan Juan Mata, Hazard sangat merepotkan pertahanan lawan dengan driblenya yang menerobos dan merusak pertahanan lawan. Umpan-umpannya sangat akurat dan memanjakan rekan setimnya..


24. Gary Cahill








Gary Cahill bermain sebagai bek tengah. Biasanya ia bermain ketika kapten John Terry cedera. Namun, saat ini dia lebih dipercaya mengisi skuat inti dikarenakan jadwal Chelsea yang padat dan usianya masih cukup muda. Cahill adalah tipe defender yang rela mengorbankan anggota tubuhnya untuk menjaga agar bola tidak masuk ke dalam gawang Chelsea. Beberapa kali dia sering cedera akibat tindakannya menghalau bola.Ketika membantu penyerangan Cahill biasanya mencetak gol melalui sundulan lewat tendangan pojok, atau melakukan tendangan jarak jauh dari luar kotak penalty.

26. John Terry











John Terry adalah kapten utama Chelsea. Bermain sebagai bek tengah dan merupakan pemain paling senior di Chelsea. Kehadirannya memberikan motivasi tersendiri bagi timnya. John Terry adalah defender paling produktif dalam sejarah liga Inggris. Selain sering mencetak gol lewat sundulan, pertahanannya tidak perlu diragukan lagi.

28. Cesar Azpilicueta











Azpilicueta bermain sebagai bek kanan. Pada awal musim Azpilicueta adalah pemain di bangku cadangan. Debut pertama ia bermain sebagai pemain inti adalah pada saat kapten John Terry dan Gary Cahill cedera. Mau tak mau bek kanan Branislav Ivanovic digeser ke tengah untuk mengisi posisi bek tengah bersama David Luiz. Postur bek tengah harus cukup tinggi untuk menghalau bola-bola atas yang masuk ke jantung pertahanan Chelsea oleh karena itu Branislav Ivanovic digeser posisinya dan posisi bek kanan diisi oleh Azpilicueta. Sebagai pemain cadangan tentu Azpilicueta ingin membuktikan kualitasnya bahwa dia layak bermain di tim utama. Tekadnya tidak sia-sia, melalui permainan gemilangnya posisi Azpilicueta di sektor pertahanan bagian kanan saat ini tidak tergantikan. Azpilicueta memiliki kecepatan dan drible yang cukup baik. Dia rajin membantu serangan dan memberikan umpan-umpan matang dari sisi kanan dan cepat kembali ke pertahanan apabila terjadi serangan balik. Dibutuhkan stamina tinggi untuk dapat melakukan itu dan tidak banyak pemain sepak bola yang mampu melakukan hal yang sama. Permainannya yang cemerlang membuat Azpilicueta dipanggil oleh timnas Spanyol untuk masuk dalam skuat negara yang menjuarai piala dunia dan piala Eropa tersebut.

29. Demba Ba
 Demba Ba adalah striker baru Chelsea yang didatangkan dari Newcastle United pertengahan musim ini (2012-2013). Ba direkrut karena performanya yang cemerlang bersama Newcastle dan merupakan salah satu mesin pencetak gol di liga Inggris. Kontribusinya di Chelsea cukup membantu lini depan Chelsea. Umpan-umpan matang dari lini tengah maupun defender Chelsea sering dimanfaatkan dengan baik oleh Ba menjadi sebuah gol.



Saat ini Chelsea dilatih oleh pelatih asal Spanyol Rafael Benitez dengan formasi pemain 4-2-3-1. Berikut susunan pemain inti Chelsea.

Kiper: Peter Cech
Defender: Azpilicueta, John Terry, David Luiz, Ashley Cole
Gelandang Bertahan: Mikel dan Lampard
Gelandang Serang: Ramires, Juan Mata, Eden Hazard
Striker: Torres/Ba

Cadangan:
Kiper: Turnbull, Hilario
Defender: Gary Cahill, Fereira, Ivanovic, Bertrand
Midfielder: Oscar, Romeu, Moses, Malouda, Benayoun
Striker: Ba, Marin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Playlist